Etalase

Rahasia Sedap Kupat Tahu Mangunreja

Kabupaten Tasik | Mangunreja dan kupat tahu ibarat dua sisi mata uang. Tidak bisa dipisahkan. Keduanya sudah menjadi budaya kuliner. Namanya sudah terkenal luas hingga melewati batas daerah. Menembus sampai ke luar kota. Dan kini, kupat tahu telah menjadi identitas Mangunreja, Kabupaten Tasikmalaya.

Lala, salah seorang penerus usaha Kupat Tahu Mangunreja, menceritakan asal-usul makanan berbumbu kacang itu. Ia menuturkan, usaha itu dirintis kakek-neneknya, Usman-Ocih, pada 1955.

Sejak dulu sampai sekarang lokasinya tidak berpindah jauh. Bertahan di jalan Raya Garut Km 2, tepatnya di kampung Toblongan, Kecamatan Mangunreja. Tentu bukan hal mudah mempertahankan usaha kuliner selama puluhan tahun, seperti Kupat Tahu Mangunreja. Pasti ada yang dijaga di dalamnya. Apalagi kalau bukan rasa.

Lala merupakan generasi ketiga di usaha itu. Sejak 1990, orangtua Lala, Maman-Tirah, meneruskan kendali sampai sekarang. Lala merintis di tempat baru, sedangkan orangtuanya masih di tempat dulu. Jaraknya berdekatan. “Tempat yang baru itu persiapan kalau-kalau tempat yang lama kontraknya tidak diperpanjang,” sebut perempuan berusia 35 tahun itu.

Kendati harganya terbilang mahal, Rp 18.000 per porsi, Kupat Tahu Mangunreja tak pernah sepi. Di hari biasa bisa habis 200 kupat. Pelanggannya bukan hanya dari Tasikmalaya, tapi juga dari Bandung hingga Jakarta. Bukanya mulai jam 8 pagi sampai maghrib. Jika lebaran, Lala biasa menjual kupatnya saja. Satu buah harganya Rp 5.000. Lebaran kemarin ia menjual lebih dari 2.000 kupat.

Disinggung soal rasa, Lala membuka sedikit rahasianya. Menurutnya, pemasakan bumbu tidak menggunakan kompor, melainkan tungku. Pakai kayu bakar. Kacangnya pun tidak dihaluskan dengan blander, tapi ditumbuk. Prosesnya tidak instan. Untuk membuat bumbu kacang, Lala menyebut waktu tiga jam. Kalau memasak kupat lebih lama lagi. Perlu enam jam. initasik.com|sep

Komentari

komentar