Suasana di Bakso Firman | Eri/initasik.com
Peristiwa

Ramadan, Bakso, dan Tradisi yang Entah Siapa Memulai

initasik.com, peristiwa | Sepekan jelang memasuki bulan Ramadan, para penjual bakso mulai disibukkan dengan banyaknya pembeli. Kesibukan kian bertambah pada H-2 dan H-1 Ramadan. Pembeli berjubel. Agendanya munggahan.

Tradisi jelang memasuki Ramadan itu entah siapa yang memulai. Satu hal yang pasti, setiap tahun seperti itu. Masyarakat di pelosok sengaja datang ke kota sekadar untuk jajan bakso dan makanan lainnya. Orang-orang yang dari kota pun tak mau ketinggalan.

Pemandangan seperti itu terlihat di Bakso Ojo, misalnya. Lapak bakso yang terletak di jalan Kapten Naseh, Kota Tasikmalaya, itu terpantau cukup ramai. Penjualnya, Eti, tak henti-hentinya melayani pembeli.

Saat dilontarkan beberapa pertanyaan, Eti pun hanya menjawab seadanya. “Punten, A, nuju rariweuh,” ucapnya di sela kesibukan meladangi pembeli. Padahal, saat itu waktu baru sekitar pukul 10 pagi.

Eti mengatakan, lonjakan pembeli di warungnya itu sudah terjadi sejak seminggu yang lalu. Meskipun tak terlalu signifikan, menurutnya kenaikan itu cukup menambah pemasukannya.

Kesibukan serupa terjadi di Mie Bakso Firman, yang letaknya tak jauh dari Bakso Ojo. Halaman parkir dipadati kendaraan pembeli. Kebanyakan didominasi oleh kendaran roda dua. Saat masuk ke dalam kedai bakso Firman, puluhan pengunjung sudah menempati tempat duduk.

Menurut Ida, pemilik kedai Bakso Firman, kedainya sudah mulai ramai sejak sekitar seminggu yang lalu. Dalam sehari, Ida mengatakan bisa menghabiskan 500 porsi bakso. “Satu porsinya Rp 18 ribu. Maaf ya kalau jawabnya singkat, lagi banyak pesanan,” kata ida dengan ramah sembari tangannya tetap mencatatkan pesanan konsumen.

Ida menambahkan, biasanya, kenaikan pengunjung ke kedai yang buka dari pukul sepuluh pagi sampai pukul sepuluh malam itu puncaknya setelah lebaran nanti. “Kalau sekarang belum begitu terasa, tapi biasanya nanti H+2 lebaran baru lebih repot dari ini,” tegas Ida.

Bukan hanya bakso, tukang sate juga diserbu pembeli. Seperti yang terlihat di warung sate Ewo yang terletak di sekitar Pasar Cikurubuk. Warung sate yang sudah ada sejak 1960, sejak di Pasar Lama, itu tak berhenti meladangi konsumen.

Lilis, cucu dari Ewo (Alm), mengatakan, beberapa hari ini, dalam sehari bisa menghabiskan sampai 60 kilo daging sapi dan ayam. “Kalau hari-hari biasa paling cuman 20 sampai 25 kilo,” ujarnya.

Ia menambahkan, warung sate yang biasa buka sejak subuh itu, di bulan Ramadan bukanya mulai pukul lima sore. “Alhamdulillah, setiap kali akan memasuki bulan suci Ramadan, tempat ini selalu penuh dikunjungi pembeli,” imbuh Lilis. [Eri]