Razia Pasangan Mesum di Tasikmalaya
Refleksi

Razia

Masih mengenakan seragam kuliah, mahasiswi calon perawat itu menundukkan kepalanya. Ia menghindari sorotan kamera. Tak banyak bicara. Kalau ditanya lebih sering geleng kepala. Respons berbeda diperlihatkan pasangannya. Lelaki berkaos putih itu sikapnya biasa saja. Dingin. Tak terlihat raut wajah takut atau malu.

Mereka adalah satu dari sekian pasangan yang malam itu kena razia saat sedang chek in di Hotel Padjadjaran, Cilembang. Lantaran bukan pasangan suami-istri, mereka dibawa ke pos polisi. Didata. Setelah itu disuruh pulang. Selesai.

Begitulah. Selalu seperti itu kalau razia. Heboh saat merazia, endingnya begitu saja. Antiklimaks. Bahkan pendataannya pun hanya di atas kertas kartos. Tutup dus minuman mineral disobek, lalu dipakai mendata siapa saja yang malam itu kena razia.

Pernah di satu malam Minggu polisi menggeledah rumah penjual minuman keras. Kapolres pun turun tangan. Truk Dalmas, motor, dan mobil polisi berjajar di jalan. Mengundang kepenasaranan warga. Jadi tontonan.

Seorang lelaki yang diduga penjual miras dibawa ke kantor polisi. Barang buktinya pun diangkut. Beberapa bulan berikutnya dia disidang. Ternyata lelaki itu bukan pemilik minuman keras. Itu milik kakak iparnya. Saat sidang itu, kakak iparnya hadir. Tapi dia bukan sebagai terdakwa atau saksi, hanya menonton di kursi pengunjung.

Hakim pun memvonis lelaki bernasib sial karena seperti jadi tumbal itu. Bukan vonis penjara, tapi hanya denda uang. Beres. Pulanglah dia. Hanya begitu. Heboh saat merazia, endingnya seperti itu. Selalu antiklimaks.

Seheboh apapun razia tempat hiburan malam, indekos, atau hotel, ujungnya pasti demikian. Sesering apapun polisi menggelar razia, hanya seperti angin lalu. Tak berbekas. Hari ini dirazia, besok lusa begitu lagi. Kecuali kalau ada yang membawa narkoba, urusannya bakal lumayan panjang.

Pernahkah ada hotel yang dicabut izin usahanya lantaran dipakai transaksi berahi? Adakah indekos yang ditutup karena dijadikan markas bermaksiat? Oh, kalau tempat karaoke yang ditutup itu, itu mah hanya kena sial.

Pemkot menutupnya bukan karena supremasi hukum. Toh, sampai sekarang masih ada tempat karaoke yang buka? Padahal, tempat-tempat karaoke itu kondisinya tak jauh beda dengan tempat karaoke yang ditutup. Pemandu lagu alias PL, ada. Mau nyanyi sambil “menggarap” PL, bisa. Bawa minuman keras ke dalam, gampang. Lalu? ***

Foto: dok. initasik.com

Komentari

komentar