Historia Kapan

RELASI ULAMA DAN UMARA DALAM PELAKSANAAN RODA PEMERINTAHAN DI TASIKMALAYA

Relasi harmonis antara ulama dan umara dalam tradisi kekuasaan Tasikmalaya sudah berlangsung sejak abad ke-17. Dipelopori oleh Dalem Sawidak (Wiradadaha III) yang sukses menyeleraskan urusan pemerintahan dan keagamaan. Pada masa itu hubungan ulama dan umaro terjalin dengan harmonis tanpa menghilangkan prinsip dan batas-batas. Kabupaten Sukapura merupakan pusat gerakan Tarekat Satariyah di belahan Asia Tenggara. Syekh Abdul Muhyi Pamijahan sebagai pemimpin gerakan tarekat Satariyah, setia mendampingi Dalem Sawidak dalam menjalankan roda pemerintahan. Dalem Sawidak mampu menjadi penopang syiar agama Islam yang berjalan tanpa menimbulkan gejolak dan konflik. Hubungan harmonis antara ulama dan umaro terus dipertahankan seiring silih bergantinya generasi kepemimpinan. Pada tahun 1920, Bupati Wiratanoeningrat mengukuhkan kembali tradisi hubungan pemerintah dengan para ulama. Bupati mendirikan perkumpulan alim ulama yang disebut “Idharoe Bijatil Moeloeki wal Oemaro”, Artinya: Tuhu ka Ratu, turut ka Pamarentah negara. Perkumpulan idhar ini dipimpin oleh seorang Kiai Kharismatik, Kiai Soedja’i (Mama Kudang). Pada 15 Juni 1926 perkumpulan kiai ini bermetamorfosis menjadi Persatuan Guru Ngaji (PGN). Pembentukan PGN merupakan suatu bentuk pengikutsertaan ulama di pemerintahan. PGN hadir mengawal segala bentuk kebijakan Bupati Tasikmalaya, kususnya yang bersangkutan dengan masalah keagamaan. (Bin Adang)

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?