Kus | initasik.com
Peristiwa

Ribuan Santri Kabupaten Tasik Tolak Sekolah Sehari Penuh

initasik.com, peristiwa | Kendati Presiden RI Joko Widodo telah memberikan pernyataan jika kebijakan sekolah sehari penuh alias full day school tidak diwajibkan, namun ribuan santri yang berasal dari berbagai pesantren serta PC NU Kabupaten Tasikmalaya tetap berunjuk rasa menolak dilaksanakannya rencana tersebut, Selasa, 15 Agustus 2017.

Aksi yang melibatkan santri dari berbagai pesantren itu diawali dengan berkumpul di Masjid Agung Kabupaten Tasikmalaya. Kemudian mereka berjalan kaki menuju gedung Setda dan DPRD untuk menyampaikan aspirasinya. Saking banyaknya massa aksi, jalanan di kawasan Kecamatan Singaparna yang menjadi pusat kota kabupaten mengalami kemacetan cukup parah.

Dengan meneriakkan penolakan terhadap sekolah sehari penuh, mereka bersalawat hingga berbaris rapi di halaman Gedung Setda Pemkab Tasikmalaya, hingga orasi.

Pengurus Ponpes Haur Kuning Salopa, KH Busyro Al Karim, mengatakan, ia bersama santrinya jauh-jauh datang menghadiri aksi tersebut dengan satu tujuan untuk menolak diselenggarakannya sekolah sehari penuh yang dipastikan bakal mematikan pendidikan madrasah.

Menurutnya, jika rencana itu dilaksanakan, maka tidak ada waktu lagi bagi anak-anak untuk belajar agama di pesantren atau madrasah-madrasah yang biasa diselenggarakan setelah pelajaran formal di sekolahnya.

“Ini berkaitan dengan masa depan generasi bangsa. Makanya saya terpanggil dan merasa perlu untuk menegaskan jika kami pun menolak full day school yang diwacanakan pemerintah tanpa memperhatikan aspek kultur masyarakat di daerah,” tuturnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya, Kundang Sodikin menegaskan, berkaitan dengan wacana pemerintah pusat yang hendak memberlakukan full day school, dengan tegas pihaknya pun menolaknya terlebih untuk tingkat SD.

Pasalnya, Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum jauh-jauh hari telah mencanangkan kebijakan mereka yang hendak masuk tingkat SMP harus melampirkan ijazah madrasah diniyah.

“Jika SD dilaksanakan full day school, kapan mereka belajar di madrasah diniyahnya? Makanya kami menolaknya dengan tegas,” tandasnya. [Kus]