Etalase

Riwayatmu, Koran; Dihajar Persaingan Dihantam Dotcom

Kota Tasik | Meletusnya Gunung Galunggung, 1982, menyuratkan cerita lain bagi Saepul Yamin, 42 tahun. Pengelola Sariksa Agency; agen koran dan majalah yang berada di Paseh, Kota Tasikmalaya, itu ingat betul bagaimana kesibukan di agen yang saat itu masih dijalankan ayahnya, Ahmad Nasuha.

Saepul menuturkan, pascamusibah besar itu, Sariksa Agency diserbu pembeli. Masyarakat ingin tahu perkembangan informasi seputar Galunggung. Saat itu media televisi dan radio masih terbatas. Koran pilihannya.

Media cetak jadi primadona. Oplah meningkat. Salah satu koran yang banyak dibaca adalah Mandala. Selain itu ada juga Galamedia dan Pikiran Rakyat. “Pagi-pagi masyarakat sudah kumpul di sini mau beli koran,” ujar Saepul saat berbincang dengan initasik.com, beberapa waktu lalu.

Kondisi serupa terjadi saat pengumuman kelulusan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Koran belum datang, calon pembeli sudah antre. Mereka ingin tahu apakah namanya tertera di dalam koran. Jika ada, berarti diterima di universitas negeri. Bagi mereka, pagi itu seperti hari penentuan masa depan.

Tapi, itu dulu. Sekarang, pengumuman seperti itu tidak lagi bergantung pada koran. Kini ada banyak media dotcom. Menjamurnya portal berita menjadi alternatif bagi masyarakat pencari informasi. Keberadaan koran terancam. Penjualan menurun drastis. Saepul mengaku, 30 persen omzetnya melayang. Dari tahun ke tahun, oplah menurun. Bisnis koran tidak semanis dulu.

Agen lain pun sama. Pemilik agen koran di bilangan Pataruman yang namanya enggan ditulis mengatakan hal senada. Penurunan penjualan yang paling dirasakannya adalah setelah pengumuman UMPTN tidak lagi bergantung pada koran. Ada media lain. Portal berita meruyak.

Mamat Ruhimat, pria 49 tahun yang sudah menjadi loper koran sejak 1982, pun mengalami nasib serupa. Pendapatannya terjun bebas. Banyak pembaca yang berhenti langganan koran atau majalah.

Dulu pelanggannya sampai 450 orang. Sekarang hanya 200-an. Menurutnya, tahun 1990-an ia punya pelanggan Kompas sampai 120 orang. Sekarang tinggal 30. Begitupun Pikiran Rakyat. Dari semula 150, menyisakan 50 pelanggan. Sementara TEMPO, dari langganan 15 orang tinggal satu orang. Koran dan majalah lain pun sama. Pelanggannya satu per satu mundur. “Dulu mah jualan koran itu asal mau bawa. Pasti laku. Apalagi saat Gunung Galunggung meletus. Koran Mandala sangat laku,” ujar Mamat.

Menurunnya penjualan koran, ujar Saepul, bukan hanya dikarenakan banyak media dotcom. Menjamurnya media cetak dan kebijakan perusahaan koran pun jadi penyebab lainnya. “Memasuki tahun 2000-an, persaingan semakin ketat. Agen lain bermunculan, terutama setelah Pikiran Rakyat membuka kantor perwakilannya di Tasikmalaya,” sebutnya.

Sejak keran kebebasan pers dibuka dengan UU Nomor 40 Tahun 1999, media cetak baru terus bermunculan. Bak jamur di musim hujan. Jumlahnya ribuan. Serikat Penerbit Surat Kabar pernah melansir, dari yang semula 289 penerbitan pada 1997, menjadi 1.687 sejak keluarnya UU tersebut. Sebagian sudah tumbang karena tak kuasa melawan derasnya arus persaingan, namun masih banyak yang tetap bertahan, meski dengan napas terengah-engah.

Kendati bisnis media massa cetak tengah diserang dari berbagai penjuru, Saepul yakin usahanya akan bertahan. Tetap berjalan, meski melambat. Orang-orang masih membutuhkan koran. Keberadaanya belum bisa dipukul mati oleh internet dan televisi. Kedua media elektronik itu masih sebagai media alternatif. Itupun bagi orang-orang tertentu. Karena faktanya masih banyak orang yang melek baca tapi gagap teknologi.

Di Sariksa Agency, ia mengaku generasi kedua. Sejak 1970-an, ayahnya sudah merintis usaha tersebut. Semula, Ahmad Nasuha diutus Aneka Jasa Agency yang berpusat di Bandung untuk membuka cabang di Tasikmalaya.

“Setelah berjalan dan ada perkembangan, perwakilan Aneka Jasa Agency sahamnya dibeli ayah saya. Sejak saat itu berubah jadi Sariksa Agency. Saya mulai mengelola agen ini sejak 2005.Sejak bapak meninggal dunia,” tutur Saepul.initasik.com|shan

Komentari

komentar