Etalase

Rizal Dapat Berkah Dari Musim Batu

Kota Tasik | Musim batu akik yang kini tengah mewabah di Kota Tasikmalaya, ternyata membawa berkah bagi Rizal Abdul Azis (20). Mahasiswa BSI jurusan Manajemen Informatika itu cerdas menangkap peluang. Ia beli pompa air, gurinda, besi dan lain-lain. Itu dirangkai menjadi mesin pembuatan batu akik.

“Modalnya Rp 3,2 juta,” jawab Rizal saat ditanya soal harga mesin tersebut, Kamis, 6 November 2014. Pria jangkung itu mengaku baru satu bulan membuka usaha tersebut. Ia bersama rekannya, Nanang yang bertugas sebagai pembuat batu, tiap hari buka usaha di Jl. Pasar Baru II. Kendati baru sebulan, modal pembuatan mesin itu sudah terganti. Orang bilang BOP, alias break event point.

Selain membentuk dan menghaluskan batu, mesin tersebut berguna untuk memotong bongkahan batu yang sebelumnya tak berbentuk. “Kalau hanya membentuk hingga jadi, ongkosnya Rp 25 ribu. Tapi kalau dengan memotong Rp 30 ribu,” sebutnya. “Paling cepat 15 menit. Tapi kalau bahannya keras bisa sampai 30 menit.”

Ia mengatakan, alasan membuka usaha tersebut lantaran penggemar batu akik di Tasikmalaya sedang banyak. Tapi mesin pembuatan batu masih kurang, sementara permintaan tinggi. Sepengetahuannya, di kota ini orang yang membuka usaha seperti itu baru empat orang, termasuk dirinya. “Alhamdulillah, omzet sehari rata-rata Rp 350 ribu sampai Rp 400 ribu. Itu dari pagi sampai sore. Kadang bawa pekerjaan ke rumah, karena masih banyak batu yang belum jadi,” akunya.

Alasan serupa dilontarkan Vino Feredoris (37), pembuat batu akik di Jl. Pasar Baru I. Pria asal Padang itu baru seminggu membuka usahanya. “Ya, Alhamdulillah bisa buat makan dan beli rokok. Sisanya untuk beli mobil. Hahahaha…,” ujarnya berseloroh saat ditanya omzet.

Selain membuat, ia pun menyediakan banyak batu mentahannya. Masih berbentuk bongkahan. Itu, katanya, diambil dari daerah-daerah di Tasikmalaya selatan, seperti Karangnunggal, Buniasih, Cikupa, Pamijahan dan lain-lain. initasik.com|ashani

Komentari

komentar