Peristiwa

RS Jasa Kartini Permainkan Keluarga Pasien

Kota Tasik | Slamet Pambudi seharusnya bersuka cita, karena diamanahi keturunan lagi. Putra keduanya baru lahir, dua hari lalu. Namun, warga Dusun Cikaret, Sukamulya, Kecamatan Cihaurbeuti, Ciamis, itu malah dibuat bingung.

Soalnya, Rumah Sakit Jasa Kartini Kota Tasikmalaya, tempat persalinan anaknya, sekonyong-konyong akan memutus hak bayi. Kendati orangtuanya tercatat sebagai peserta BPJS Kesehatan, bayi tersebut, katanya, menjadi peserta umum. Artinya, ia tidak akan mendapat jaminan (pembayaran) dari BPJS Kesehatan.

Menurut pegawai rumah sakit, karena bayi terpengaruh cairan ketuban, maka harus dirawat diberi suntikan antibiotik selama tiga hari. Sementara ibu bayi dinyatakan sehat, dan boleh pulang.

“Kalau ibunya pulang duluan, tapi bayinya ditinggal, bayinya menjadi peserta umum. Itu aturan dari BPJS seperti itu. Kalau (bayinya) mau pulang paksa, silakan. Tapi rumah sakit tidak tanggung jawab kalau ada sesuatu. Itu risiko keluarga,” ujar Eka Ahadiana, karyawan RS Jasa Kartini yang ditugaskan mengelola BPJS Kesehatan, Rabu, 4 Maret 2015.

Namun, pernyataan itu disanggah staf Hubungan Eksternal BPJS Kesehatan Kantor Cabang Utama Tasikmalaya, Aditama Gunawan. Menurutnya, bayi baru lahir dari anak pekerja penerima upah dijamin BPJS Kesehatan kalau masih masuk tanggungan lima orang. Kecuali kalau peserta mandiri, sebaiknya masuk program penjaminan bayi dalam kandungan.

Diberitahu soal itu, Eka berkelit. “Saya baru tahu itu barusan,” dalihnya.

Pambudi kadung kecewa. Saat Eka meralat ucapannya, ia sudah bersiap pulang dengan istri, sekaligus bayinya. Pulang paksa. initasik.com|ashani

Komentari

komentar