Peristiwa

RS Prasetya Bunda Usir Pasien?

Kota | Tak lama setelah memasuki ruang di lantai dua rumah sakit (RS) Prasetya Bunda, Kamis (13/2/2014), Nisa Afifah disergah pertanyaan menohok. Ia kaget. Maksud hati ingin melihat anaknya yang tengah dirawat di ruangan itu, malah mendapat pertanyaan tak terduga.

“Tadi pagi dokter sudah memberi izin rujuk. Karena jatah biaya pengobatan anak ibu sudah habis, silakan datangi meja informasi. Mau lanjut dirawat atau dirujuk ke rumah sakit lain?” ujar Nisa menirukan ucapan seorang perawat.

Nisa pun mendatangi meja informasi. Pertanyaan serupa terlontar dari petugas di sana. Lanjut atau rujuk? Ia pun meminta waktu untuk berembug dengan keluarga. Namun, belum juga mengambil keputusan, warga Bantargedang, Kel. Bungursari, Kota Tasikmalaya, itu ditanya lagi. “Bagaimana, lanjut atau rujuk? Soalnya pihak rumah sakit umum sudah menelepon terus. Mereka menanyakan kepastiannya,” katanya mengulang pertanyaan petugas.

Pertanyaan itupun dilontarkan kepada suaminya, Hilman Maulana. Lantaran kesal sering ditanya, meski sedang berembug dengan keluarga, Hilman mengambil inisiatif sendiri. Anaknya dirujuk ke RSUD dr. Soekarjo.

Herannya, Hilman maupun Nisa tidak disuruh mengurus dulu administrasi. Mereka juga tidak menandatangani berkas rujukan atau surat apapun yang berkaitan dengan rekam perawatan anaknya di rumah sakit swasta itu.

Mereka pergi dengan setumpuk tanda tanya. “Anak saya kan tercatat sebagai peserta BPJS Kesehatan. Katanya, selama pasien masih memerlukan perawatan dan dirawat sesuai kelasnya, berapapun biayanya akan ditanggung BPJS Kesehatan. Tidak ada jatah seperti yang disampaikan Prasetya Bunda,” heran Nisa.

Ia pun mengaku tidak mengerti kenapa saat keluar dari RS Prasetya Bunda, pihaknya tak mengurus administrasi apapun. Biasanya, setahu dia, saat akan keluar dari rumah sakit manapun setelah selesai dirawat, ada beberapa dokumen yang mesti ditandatangani. Tapi tidak dengan RS Prasetya Bunda.

Keheranannya memuncak saat ia sampai di RSUD dr. Soekarjo, Kota Tasikmalaya. Beberapa perawat bertanya, kenapa bayinya dirujuk ke rumah sakit berplat merah itu. Nisa tak bisa menjawab. Ia kikuk. Informasi yang didapat dari RS Prasetya Bunda hanya soal jatah biaya perawatan yang sudah habis. Tak ada yang lain. Lantas, seorang perawat menyangkal telah menelepon RS Prasetya Bunda untuk menanyakan kepastian kapan rujuknya. “Tapi kata perawat itu mungkin yang nelepon ke sana petugas shift malam,” ujarnya.

Nisa menuturkan, jatah biaya perawatan anaknya yang diberikan RS Prasetya Bunda hanya sekitar Rp 1,6 juta.  Jatah itu, kata perawat, telah habis pada Kamis (13/2) sekira pukul 07.00 WIB. Sementara bayinya masuk rumah sakit itu pada Rabu (12/2) pagi.

Kalau mau terus dirawat di rumah sakit yang beralamat di Jl. Ir. H. Djuanda No.1, Kota Tasikmalaya, itu otomatis statusnya menjadi pasien umum. Jaminan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan serta merta gugur. Jika dilanjut, biaya per hari Rp 500 ribu. Itu untuk fasilitas kamar, belum termasuk obat-obatan. initasik|ashani

Komentari

komentar