Inspirasi

RSBS; Mimpi dari Pelosok Kelola Rongsok

Kabupaten Tasik | Ada banyak cara yang bisa ditempuh dalam menangani masalah sampah. Salah satunya seperti yang dilakukan Wawan Widarmanto, wakil Ketua Yayasan Amal Ikhlas Mandiri di Dusun Tabrik, Desa Puteran, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya.

Menurut dia, untuk mengubah sebuah tatanan harus dimulai dari perubahan pola pikir dan perilaku secara total. Wawan kemudian membuat konsep Rumah Sampah Berbasis Sekolah (RSBS) di sekolah PAUD yang berada di yayasan tersebut.

“RSBS adalah konsep pendidikan karakter yang aplikatif dan mengajarkan nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, dan kemandirian sejak dini. Sampah yang sampai hari ini masih menumpuk dan tercecer di mana-mana membuktikan bahwa dulu ada yang keliru dalam perkembangan usia dini,” papar Wawan.

Program yang diresmikan pada 18 Desember 2010 itu diterapkan di PG, RA, dan MI yang berada di bawah Yayasan Amal Ikhlas Mandiri. Di sekolah disediakan ruangan ukuran 2×4 meter. Itu untuk rumah sampah. Tempat menyimpan sampah yang dibagi tiga sekat; untuk sampah plastik, kertas, dan sampah campuran.

Setiap seminggu sekali, semua murid harus setor sampah yang dibawa dari rumah. Sampah apa saja, tapi diutamakan yang bisa dijual, seperti bekas minuman mineral, kardus, dan lainnya. Setoran itu ada catatannya. Ada pengelola yang mencatat setoran tiap anak. Setelah sampah itu penuh dijual ke pengepul.

“Sesuai kesepakatan bersama, uang itu digunakan pembelian gizi di setiap kegiatan Posyandu. Tiap tiga bulan sekali ada evaluasi dalam kegiatan parenting, dan diumumkan kepada orangtua, dapat sampahnya berapa kilogram, jadi uangnya berapa,” ujar Wawan.

Ia menjelaskan, dengan konsep RSBS anak-anak dibiasakan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Pun bagi orangtua dan masyarakat pada umumnya. Itu akan menjadi pengingat agar orang dewasa terbiasa membuang sampah pada tempatnya.

“Ini sebuah gerakan yang harus komprehensif. Membutuhkan koordinasi melekat antara sekolah dan masyarakat. Harus saling mendukung. Saya pribadi punya mimpi, 12 tahun ke depan kampung Tabrik harus bebas sampah. Pola pikir masyarakat sudah terbangun dengan baik,” harapnya. initasik.com|shan

Komentari

komentar