Ilustrasi
Sorot

Rusaknya Citra Wartawan di Mata Mereka

initasik.com, sorot | Kalangan pendidik acap bergidik saat kedatangan orang yang mengaku wartawan. Mereka seperti ketakutan. Bupati Tasikmalaya, Uu Ruzhanul Ulum, mengistilahkan wartawan seperti itu dengan sebutan wartawan odong-odong.

Menurutnya, sekarang ini banyak yang mengaku wartawan dengan gaya yang berlebihan. “Di bajunya ada tulisan pers dengan ukuran besar  Pakai jaket kulit dan kartu pengenal digantung di saku. Sigana mah asa pangaingna, padahal surat kabarna duka di mana. Tapi, kan, orang Cigalontang tidak tahu kalau mereka itu wartawan  odong-odong,” tuturnya dalam satu kesempatan.

Kepala SMPN 1 Sukarame, Drs. Ade Suryana, MM, menceritakan pengalamannya yang tidak menyenangkan ketika kedatangan oknum-oknum wartawan. Mereka datang ke sekolah bukannya untuk meliput, tapi jualan barang.

Ade mengatakan, belum lama ini ia kedatangan orang-orang yang mengaku wartawan dan menawarkan kotak obat. Ia diminta untuk membeli itu. Tapi harganya tidak masuk akal. Satu kotak obat harus ditebus Rp 1,5 juta. Ade melawan.

Ketua Yayasan KH Abdul Aziz Mulia, Drs. Teteng Muhlis Aziz, M.Pd, mengaku, hampir setiap hari sekolah yang berada di bawah yayasannya, SMK As-Saabiq, selalu kedatangan wartawan dari berbagai media dan dengan  macam-macam motif.

“Kalau saya suka diterima apapun kepentingan mereka. Tapi kalau sudah macam-macam, dan saya tidak nyaman, saya tegas menolak. Kalau sudah di luar norma, saya selalu bersikap tegas,” tandasnya.

Ade dan Teteng satu suara dalam menilai mana wartawan yang benar dan abal-abal. Biasanya, wartawan yang benar menjalankan profesinya suka datang sendiri. Sedangkan wartawan abal-abal suka bergerombol. Penampilannya terkesan urakan. Kartu pengenal sengaja dipasang di saku sebelah luar, seolah mau memerlihatkan taji.

“Kita bisa melihat dari penampilan dan cara berkomunikasi. Tapi siapapun mereka, saat bertamu ke sekolah, saya terima. Kalau ada yang tidak menyenangkan, saya lawan. Sepanjang saya engga salah, kenapa harus takut? Kalaupun saya punya kesalahan, caranya bukan diselesaikan dengan memaksa atau intimidasi,” tutur Ade.

Bupati Uu meminta agar para birokrat dan kaum pendidik untuk selalu on the track dalam bertugas, sehingga menutup celah para wartawan odong-odong untuk bergerilya. “Kalau sudah di jalan benar, tidak akan takut kepada siapapun. Kalau tidak on the track pasti akan selalu dihantui ketakutan. Takut terbongkar. Saya harap penyelenggara pemerintah dan pendidikan selalu on the track, bekerja sesuai dengan aturan yang ada,” tuturnya.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tasikmalaya, Samsul Maarif, menyarankan agar menerima siapa saja, termasuk wartawan, yang bertamu ke instansi atau sekolah. “Kita wajib menerima tamu dengan baik. Kalau dia mengaku wartawan, tanya dari media mana. Jika mau wawancara, layani dengan baik. Tapi, kalau arahnya sudah lain, menjurus pemerasan dan mencari-cari kesalahan, lawan mereka. Laporkan segera,” tandasnya. [Jay]