Yayah Wahyuningsih | Jay/initasik.com
Peristiwa

Sampai September 2017 Ada 7 Kasus Perdagangan Anak di Kabupaten Tasik


initasik.com, peristiwa | Kasus penjualan anak di Kabupaten Tasikmalaya terbilang tinggi. Sejak Januari 2017 sampai September 2017 ada tujuh anak yang jadi korban perdagangan manusia. Motifnya macam-macam. Kebanyakan diiming-imingi akan diberi pekerjaan di cafe.

Yayah Wahyuningsih, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) di Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kabupaten Tasikmalaya, angka sebanyak itu baru yang terungkap. Bisa jadi, yang tidak diketahui masih banyak lagi.

“Selama Januari sampai sekarang sudah ada 32 kasus. Selain human trafficking, banyak juga pelecehan seksual terhadap anak, hingga kekerasan dalam rumah tangga. Kasus-kasus yang tidak diperkirakan ada di Kabupaten Tasik, ternyata ada. Saya kaget juga,” tuturnya.

Ia mengaku baru menjabat Kabid PPPA pada awal tahun ini. Ternyata, semakin mendalami kasus-kasus yang menimpa anak dan keluarga, semakin membuatnya heran. Banyak kasus yang tidak disangka bakal terjadi tapi terjadi.

“Ada empat elemen yang harus menjadi satu kesatuan, yaitu diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Kita tidak bisa serta merta menyalahkan salah satu pihak saat terjadi kasus yang menghentak nurani,” tandas Yayah.

Menurutnya, dari empat elemen itu, peran keluarga yang paling penting. Pendidikan di keluarga jangan diabaikan, termasuk penanaman dasar-dasar agama sebagai pondasi bagi anak dalam menapaki kehidupannya. Apalagi saat ini eranya kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi.

“Dulu, setiap Magrib sampai Isya anak-anak wakib mengaji. Sekarang? Kalau kita berpijak pada agama dan ibu sebagai madrasah utama berperan maksimal, saya yakin tidak akan terjadi hal-hal yang mengerikan seperti yang sering terjadi selama ini. Orangtua harus menjalankan perannya dengan baik,” paparnya. [Jay]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?