Seni Budaya

Sanggar Seni Asta Mekar Ajak Anak Muda Kota Tasik Cintai Angklung

initasik.com, seni budaya | Sekelompok anak muda di Kota Tasikmalaya membentuk Sanggar Seni Asta Mekar yang fokus pada alat musik angklung. Mereka kemudian mengajar bermain angklung kepada para siswa di beberapa SMP. Mereka tidak memungut biaya dalam mengajar angklung kepada siswa.

“Kami memperkenalkan angklung, dan mengajak generasi muda mencintai angklung agar alat musik ini tetap lestari,” kata Ketua Sanggar Seni Asta Mekar, Gifar Herdiansyah, saat ditemui di SMPN 2 Kota Tasikmalaya, Rabu 23 Agustus.

Ia menamakan kegiatan mengajar angklung itu dengan sebutan program Senang alias Seni Angklung. Cara penyampaian materi tentang angklung disisipi dengan sedikit hiburan supaya siswa tidak bosan.

Menurutnya, di setiap sekolah ada empat kali pertemuan dalam sebulan. Tiap pertemuan, mereka mengajar angklung selama dua jam. “Pengajar (dari sanggar) ada sepuluh orang,” ujar Gifar.

Dalam setiap latihan, para siswa sangat antusias mempelajari angklung. Di tiap sekolah, ada minimal 20 siswa mengikuti ekstrakurikuler angklung ini. “Kalau di SMPN 2 Tasikmalaya ini siswanya cukup banyak yang ikut. Ada 50 orang,” imbuhnya.

Motivasi awal pembentukan sanggar, kata Gifar, untuk melestarikan angklung. Mereka juga bercita-cita agar seni angklung dari Tasikmalaya bisa mendunia. Harapannya bisa seperti Saung Udjo di Bandung, sehingga ke depan bisa menjadi objek wisata di bidang kesenian.

Dia menyebutkan, di Bandung ada pasanggiri atau lomba angklung. Kelompok anak muda dari sanggar ini juga menginginkan ada pasanggiri angklung di Tasikmalaya. Ingin membuat acara berskala besar.

Saat ini, lanjut Gifar, sanggar angklungnya baru mengajar di empat SMP. Dia berharap, bisa memperkenalkan angklung kepada semua SMP di Kota Tasikmalaya. “Inginnya sih mulai SD sampai SMP. Target sekarang SMP dulu,” ucapnya.

Ditanya soal kendala, salah satunya masih ada sekolah yang belum mendukung Program Senang yang digagas mereka. Padahal, bagi sekolah yang belum memiliki satu set alat musik angklung, ia siap membawanya untuk dipakai belajar oleh siswa. “Kita bawa alat bagi sekolah yang belum punya angklung. Ada empat set angklung yang boleh dipakai siswa,” kata Gifar.

Salah seorang siswa, Khansa Lutfiah, mengatakan, angklung merupakan kesenian khas Jawa Barat. Oleh karenanya, dia ingin mempelajari lebih dalam. “Sejak kecil ingin sekali belajar angklung, agar kesenian ini lestari,” ucapnya. [Nunu]