Seni Budaya

Sastra Bisa Jadi Jembatan Membangun Karakter Anak

Kota Tasik | Sastra memiliki peran penting dalam meningkatkan mutu pendidikan dan membentuk karakter anak. Karenanya menanamkan kesastraan sejak dini kepada anak-anak patut dilakukan.

Banyak cara untuk mendorong anak-anak agar menyukai sastra.  Contohnya seperti yang dilakukan Unit Kegiatan Mahasiswa Area Komunitas Seni Sastra (Aksara) UPI Kampus Tasikmalaya dengan menggelar Festival Sastra Aksara

“Acara ini satu tahun sekali. Ini baru yang keempat. Kita ingin mengenalkan sastra sejak dini kepada anak-anak. Acaranya ada lomba baca puisi tingkat SD se-Priangan Timur, lomba mendongeng, lomba menulis surat untuk guru tingkat SD, menulis cerpen tingkat mahasiswa, dan seminar literasi,” tutur Anisa, ketua pelaksana Festival Sastra Aksara, saat ditemui disela kegiatan, Sabtu, 18 Februari 2017.

Melalui kompetisi, kata dia, setidaknya anak-anak akan gemar membaca. Terlebih, sastra merupakan sumber utama bagi penerusan warisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Minimal minat baca untuk generasi selanjutnya meningkat.

“Sebelum baca yang berat, ya baca yang ringan seperti sastra. Dan sastra inilah yang tidak akan pernah bungkam dalam menyuarakan kebenaran. Utamanya kegiatan ini menggarap keterampilan berbahasa, yaitu menulis, membaca, mendengarkan, dan berbicara,” terang mahasiswa Semester 6 Jurusan PGSD itu.

Pengamatannya, minat anak-anak sekolahan dalam membaca dan menulis sangat kurang. Itu terlihat dengan peserta perlombaan yang sedikit, padahal informasi sudah sangat gencar. Undangan disebarkan.

“Minat ini kurang karena awalnya kurang gemar membaca. Terkalahkan sama gadget. Sekolahan harus lebih gencar lagi menggerakan literasi sekolah. Menciptakam suasana kelas yang literal dengan menyediakan perpustakaan intensif kelas. Dengan begitu, pelarian anak-anak saat jenuh dikelas bukan pada gadget melainkan sama buku-buku yang sudah berjajar,” jelasnya.

Sementara itu, Nero Taufik Abdillah, pegiat literasi, mengungkapkan, saat ini kebanyakan pelajar atau mahasiswa menjadi penghafal bukan pembaca dan penalar. Ketika menggelar kegiatan pun, hanya bersifat seremonial. Tidak ada tindak lanjutnya.

“Saat ini mahasiswa sibuk lebih pada membuat kegiatan tanpa ditindak lanjuti dengan kajian. Ditulis hasilnya. Tidak berpikiran normatif. Harus kritis,” terangnya saat menjadi pemateri Seminar Literasi di UPI Kampus Tasikmalata.

Selain itu, pihak sekolah maupun kampus mendorongnya dengan membuat suatu sistem yang dapat mengarahkannnya. “Saling mendorong satu sama lain. Misalnya setiap dalam pengajaran diwajibkan siswa atau mahasiswa untuk membaca. Mencari buku terus diintegrasi dengan menggelar seminar, dan tidak berhenti disana mereka menulis kegiatan hasil seminar tersebut,” pungkasnya. initasik.com|syamil

 

Komentari

komentar