Etalase

Saung Sunda Kiwari, Bukan Sekadar Usaha Cari Untung

initasik.com, etalase | Baru tiga bulan ini, Adja Subagja membuka Saung Sunda Kiwari di Jl. Ibu Apipah, Kota Tasikmalaya. Kecintaannya pada pakaian dan adat serta identitas kesundaan lainnya mendorongnya membuka lapak itu.

“Kalau bukan oleh kita, siapa lagi yang merawat budaya Sunda?” jawabnya balik bertanya saat ditanya alasan membuka Saung Sunda Kiwari.

Kendati orientasinya memang bisnis, cari untung, tapi itu bukan satu-satunya tujuan Adja. Ia mencoba melestarikan dan mengenalkan budaya Sunda, termasuk dalam hal berpakaian, kepada generasi sekarang yang hidupnya dimanjakan oleh teknologi komunikasi dan kecanggihan lainnya.

“Tadi juga ada anak kecil beli iket. Eh ternyata dia ingin baju pangsi juga. Jadinya ngeborong,” sebut Adja tertawa.

Selain iket dan pangsi, di lapaknya juga dijual berbagai aksesori yang lekat dengan urang Sunda, seperti kalung kujang, koneron, kantong cimuti, tas labu dan lainnya. Soal harga, itu beda-beda. Tergantung bahan.

Untuk koneron, misalnya, ia jual Rp 100 ribu. Begitu juga dengan tas labu. Sedangkan kantong dari pelepah pisang lumayan mahal, yakni Rp 250 ribu. “Alhamdulillah, respons masyarakat bagus. Selalu saja ada yang beli,” akunya.

Ke depan, ia ingin menyediakan alat musik buhun, seperti karinding, celempung dan lainnya. Setiap hari, lapaknya itu buka mulai pukul sembilan pagi sampai malam. [Jay]