Peristiwa

SD Linggaputra; Sudah Berdiri Puluhan Tahun Belum Punya Toilet

Kabupaten Tasik | SDN Linggaputra di Desa Setiawangi, Kecamatan Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya, sudah berdiri sejak puluhan tahun. Bukan sekolah kemarin sore. Namun, hingga sekarang, sekolah tersebut belum punya toilet murid.

“Pihak sekolah sudah mengajukan proposal bantuan ke pemerintah daerah sampai pusat, tapi sampai sekarang tidak ada kejelasannya,” ujar Toto Sukandar, salah seorang guru, beberapa waktu lalu.

Bila ada siswa yang ingin buang air kecil, pilihannya ada dua; di pojok sekolah atau di mana saja, seperti di kebun. Di salah satu pojok sekolah ada tempat terbuka yang biasa digunakan untuk keperluan yang berhubungan dengan air, termasuk kencing. Di sana ada ember dan tembok setinggi pinggang anak, sehingga kalau kencing bisa “aman” tanpa khawatir kelihatan auratnya.

Toto mengaku tak mudah bagi sekolah untuk mengajarkan pola hidup bersih dan sehat bila faktanya demikian. Kendati begitu, pihaknya selalu memaksimalkan pendidikan karakter di tengah keterbatasan sarana prasarana.

Kelas dan halaman sekolah mesti diperhatikan agar selalu bersih. Anak-anak diajarkan tanggung jawab untuk sama-sama menjaga kebersihan lingkungan. Di waktu luang, seperti jam istirahat, kelas dan halaman disapukan.

Rupanya bukan hanya toilet yang tidak ada di sekolah yang berada di ujung utara Kecamatan Jatiwaras itu. Perpustakaan dan musala pun belum punya. Gerakan literasi sekolah dan pengembangan diri agama siswa masih perlu perjuangan keras.

Namun, tanggung jawab harus ditunaikan. Kewajiban mendidik anak tak boleh dianulir oleh tidak adanya fasilitas. Meski belum punya perpustakaan sekolah, kebutuhan baca para siswa dipenuhi dengan cara menyimpan buku-buku di atas meja, kemudian siswa memilih buku mana yang akan dipinjam. Mereka diberi waktu satu minggu untuk membaca. Minggu selanjutnya, buku-buku tersebut disilang pinjam.

Untuk mengatasi berbagai keterbatasan sarana, sekolah tersebut membuat gerakan Jumat Berkah alias Jumat Bersedekah. Tiap Jumat pagi, sebelum jam pelajaran dimulai, anak di tiap kelas bersedekah seikhlasnya. Itu dimasukkan ke kencleng. “Bukan hanya siswa, para guru pun sama,” imbuhnya.

Dalam satu minggu, uang yang terkumpul tidak menentu. Kadang Rp 200 ribu, tak jarang Rp 100 ribu. Tergantung kemampuan anak. “Kita sudah membenteng sekolah. Uangnya dari hasil sedekah itu,” sebut Toto seraya menambahkan, alasan mendahulukan membangun benteng sekolah karena untuk keamanan. initasik.com|shan

Komentari

komentar