Kosim mengambil koran-koran bekas alas sajadah di Jl. dr. Soekardjo | Jay/initasik.com
Humaniora

Seandainya tak Ada Mereka, Bagaimana Jadinya Wajah Kota Tasikmalaya?

initasik.com, humaniora | Kosim duduk lesu di atas trotoar Jl. dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya, Ahad, 25 Juni 2017, pagi. Wajahnya kusam. Matanya pun sayu. Di telinganya menempel headset hitam.

Tak banyak yang ia kerjakan. Hanya menunggu orang-orang yang sedang salat Idul Fitri di jalan sekitar Masjid Agung Kota Tasikmalaya beranjak dari tempat duduknya. Menunggu koran-koran bekas alas sajadah ditinggalkan pemiliknya. Kosim bertugas memungut koran-koran itu.

Ia bersama petugas kebersihan berstatus harian lepas lainnya punya kewajiban membersihkan sampah-sampah sisa malam takbiran dan bekas salat id. Siangnya bertugas seperti biasa, istirahat, dilanjutkan begadang. “Tadi malam mulai tugas jam setengah sebelas. Sampai sekarang belum tidur,” ucap Kosim sembari mencopot headset hitamnya.

Setelah jamaah salat id bubar, ia bergegas memungut koran-koran yang terhampar di jalan raya dan trotoar. Satu per satu diambilnya. Diperkirakan, sampah koran yang tersebar di banyak titik, seperti Masjid Agung, Garawangi, Padayungan, Dadaha, dan jalan-jalan yang dijadikan tempat salat id sampai 50 kilogram. Itu hanya sampah koran. Belum yang lainnya. “Kalau total sampah sisa malam takbiran sampai 20 truk. Satu truknya itu sekitar 3,5 ton,” sebutnya.

Lantaran bertugas tepat di hari lebaran, ia dan rekan-rekannya tidak bisa salat id bareng keluarga. Sudah dua tahun ia seperti itu. “Siapa yang tidak mau, kang? Tentu saja mau kumpul dengan keluarga. Tapi yang namanya butuh uang, ya terpaksa begini. Nikmati saja. Alhamdulillah keluarga juga menerima,” tutur warga Kawalu itu.

Untuk lembur seperti itu, ia mengaku dibayar Rp 75 ribu. Lebih besar sedikit dari upah hariannya yang biasa dibayar Rp 53 ribu. “Kalau kami tidak bekerja seperti ini, siapa yang akan membersihkan sampah?” tanyanya sembari melempar senyum.

Cecep Zenal, petugas harian lepas lainnya, mengutarakan hal senada. Ia rela tidak kumpul dengan keluarganya di saat orang-orang lain sengaja pulang kampung agar bisa salat id di tanah kelahiran. “Sedih sih, iya. Tapi, kan, sudah tugas,” tandasnya. [Jay]