Ilustrasi | Dok. initasik.com
Peristiwa

Seandainya tidak Ada Guru Sukwan….

initasik.com, peristiwa | Hampir semua sekolah dasar di Kabupaten Tasikmalaya kekurangan guru. Lantaran itu, keberadaan guru sukarelawan alias sukwan sangat dibutuhkan. Dadang Sudrajat, kepala SDN 4 Manggungjaya, mengatakan, keberadaan guru sukwan sangat membantu dalam proses kegiatan belajar mengajar.

Bahkan, tidak sedikit tenaga sukwan yang memiliki kinerja bagus, sehingga mampu mengantarkan sekolahnya berprestasi. Namun, itu tidak berbanding lurus dengan kesejahteraannya. Minim perhatian dari pemerintah. Tidak ada kepastian.

“Saya tidak bisa membayangkan kalau tidak ada guru sukwan, mungkin kegiatan belajar mengajar akan terhambat. Mungkin akan ada guru PNS yang memegang tiga kelas sampai empat kelas,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini banyak guru PNS yang akan pensiun. Padahal di satu sekolah PNS-nya sedikit. Otomatis akan dipegang sukwan. “Mereka banyak berjasa serta berprestasi dalam meningkatkan mutu pendidikan,” kata Dadang, yang juga Ketua PGRI Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya itu.

Dia berharap, pemerintah mampu memperhatikan keberadaan mereka. Setidaknya, pemerintah daerah bisa mengeluarkan surat keputusan sebagai tenaga sukwan. Sebagai bentuk pengakuan dan dibarengi pula dengan kesejahteraannya.

“Kami juga sudah mengusulkan agar membuat payung hukum. Segera dikeluarkan SK bagi sukwan, agar merasa diakui dan dibarengi kesejahteraan. SK saja belum ada, saya sudah beberapa kali mengusulkan melalui organisasi, karena mereka itu sudah banyak jasanya, bahkan sudah ada yang sudah puluhan tahun mengabdi. Harus diangkat, harus ada kebijakan. Tolong dibarengi dengan kesejahteraan juga,” terangnya.

Baca juga: Mereka Jadi Pendidik Bukan Sekadar Mengejar Materi, Apalagi Cuma Gengsi

Terpisah, Nandang, Kepala SDN 1 Dawagung, Kp. Cibogo, Desa Dawagung, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, mengatakan, pengangkatan guru tetap, terutama yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) tidak sebanding dengan jumlah guru yang pensiun tiap tahun.

Untuk menutupi ketiadaan pengganti guru pensiun, keberadaan guru sukwan sangat diperlukan. “Kalau tidak ada sukwan, pendidikan akan terbengkalai. Kelas kosong. Mau sama siapa nanti yang mengajarnya, soalnya guru definitif sangat kurang sekali?” tandasnya.

Namun, lanjut dia, itu semua tidak dibarengi dengan perhatian serta kepedulian pemerintah terhadap guru sukwan. “Hanya janji-janji, apalagi sekarang akan mendekati Pilkada. Kalau tuntutan sangat banyak, mutu pendidikan harus terus meningkat. Mau meningkat bagaimana gaji sukwannya hanya Rp 300 ribu per bulan,” ucapnya.

Di sekolahnya, ada guru sukwan yang sudah sebelas tahun mengajar. Kinerjanya sangat baik, malahan mampu mengantarkan sekolah untuk meraih prestasi. “Tidak sedikit guru PNS yang datang ke sekolahnya itu setiap hari pukul 09.00 WIB. Jarang mengajar. Kitu we di sekolahna teh kur ngobrol, ari tunjangan jeung sertifikasi cair. Kalau sukwan dituntut harus berkualitas, sedangkan PNS begitu saja kerjanya. Silakan dipikirkan sendiri,” tandasnya.[Syaepul]