Ekbis

Sebelum Digilas Kalsium, Usaha “Apu” Melaju di Era 1990-an

initasik.com, ekbis | Dari sisi harga dan kualitas, kapur atau apu jauh lebih baik dibanding kalsium. Tapi memang ada kelemahannya, yaitu ribet. Tidak bisa langsung dipakai. Beda dengan kalsium.

Di zaman yang serbainstan seperti sekarang, orang-orang ingin segalanya lebih cepat. Tak terkecuali dalam membangun rumah. Dulu, kapur atau apu jadi salah satu campuran penting dalam membuat adonan bangunan.

Kini, orang-orang beralih ke kalsium. Alasannya lebih cepat. Instan. Padahal, secara kualitas dan harga jauh lebih baik kapur. Bangunan yang memakai kapur sebagai campuran adonan tembok jauh lebih tahan lama dan tahan gempa.

Harganyapun cukup terjangkau. Untuk ukuran sekitar 40 kg, dihargai Rp 17.500. Hal itu disampaikan oleh pemilik salah satu perusahaan kapur di Kabupaten Tasikmalaya yang meminta untuk tidak menuliskan nama dan alamat perusahaannya di berita.

Ia menyayangkan, saat ini penggunaan kapur mulai jarang, karena para buruh bangunan tak mau ambil pusing dan ingin cepat selesai. “Mulai tahun 2000-an, permintaan kapur mulai menurun, apalagi sekarang bisa dibilang sangat merosot,” ujarnya.

Padahal, pada era 90-an penjualan kapurnya mencapai 210 ton per minggu. Saat ini, ia hanya bisa menjual sekitar 70 ton per minggunya. “Efek dari penurunan permintaan tadi, mengakibatkan adanya pengurangan tenaga kerja, bahkan saat ini saja dari sepuluh pabrik, hanya tinggal empat pabrik yang masih bertahan,” terangnya.

Selain itu, kebutuhan akan pembuatan kapur memakan biaya yang tidak sedikit dan waktu yang cukup lama. “Untuk pembuatan ada dua cara. Ada yang memakan oven, ada juga yang secara tradisional memakai tungku,” sebutnya.

Namun jika memakai oven, memakai biaya yang jauh lebih mahal ketimbang memakai cara tradisional, tapi dapat mempercepat waktu pembuatan. “Jika memakai tungku 1 minggu hanya mendapat 12 ton, kalau pakai oven bisa 50 ton. Itupun waktu 1 minggu hanya 1x proses pembuatan,” paparnya.

Tapi apa daya, seiring permintaan yang kian surut dan bahan bakar oven yang terus melonjak, terpaksa ia memakai cara tradisional untuk mempertahankan usahanya. Kendati begitu, ia mengaku tetap memiliki pelanggan setia. Itulah sebabnya ia masih bertahan selama puluhan tahun menjalankan usahanya. [Eri]

Komentari

komentar