Inspirasi

Sebelum Sukses di Dunia Jurnalistik, Karni Ilyas pun Pernah Jadi Agen Kode Buntut

Kamis, 25 September 1952. Hari bahagia tiba. Ilyas dan Syamsinar, warga Padang, Sumatera Barat diamanahi anak. Anak pertama. Namanya Sukarni. Ia lahir di Jorong Pahambatan. Kelak, ia dikenal dengan nama Karni Ilyas.

Kendati ayahnya seorang penjahit pakaian, Karni punya cita-cita lain. Saat masih sekolah, ia mengutarakan keinginannya: menjadi wartawan. “Saya ingin terkenal,” jawab Karni saat ditanya alasan kenapa ingin jadi wartawan.

Fenty Effendy, penulis “40 Tahun Jadi Wartawan; Karni Ilyas Lahir untuk Berita”, mengisahkan, sejak SMP, ia memang sudah akrab dengan koran. Karni jualan koran di sekitar terminal angkutan umum Goan Hoat. Bukan hanya koran, ia pun jualan rokok, permen, kaos kaki, minyak rambut, hingga kupon kode buntut. Ya, kode buntut. Gara-gara menjadi agen bisnis gelap itu, Karni pernah ditangkap polisi.

Lulus SMEA, ia merantau ke Jakarta. Saat kuliah di Perguran Tinggi Publisistik, 1972, ia melamar jadi wartawan di Harian Abadi. Di koran itu ia tak betah. Setelah meniti satu per satu koran di ibu kota, Karni memutuskan untuk menjajal kesempatan di Suara Karya; harian yang didirikan sejumlah kader Golkar. Berita berjudul “Kisah Cinta Berakhir di Pengadilan” yang dimuat 22 Februari 1973, merupakan salah satu laporannya pada tahun pertama menjadi reporter.

Sejak menjadi wartawan, Karni memang tak jauh dengan liputan hukum. Alasan itulah yang membuat Rahman Tolleng, pemimpin redaksi Suara Karya, menerima Karni sebagai wartawan. Saat melamar, ia sempat diacuhkan. Lalu ia menyodorkan ide. Menurutnya, ada yang kurang dalam pemberitaan di Suara Karya, yaitu berita hukum. Karni diterima.

Salah satu liputan yang melambungkan nama Karni Ilyas adalah kasus Syarifa Syifa. Di umur 12 tahun, Syarifa ia dipaksa kawin oleh neneknya, 1973. Oleh neneknya pula ia disuruh cerai dan mengawinkannya dengan lelaki lain. Syarifa berontak. Ia kabur dengan pacarnya, Jemsar Salim Alhadar, 25 tahun. Jemsar diadukan ayah dan nenk Syarifa. Polisi menangkapnya. Hakim memvonis Jemsar 2,5 tahu penjara.

Mendengar vonis itu, Syarifa memekik. Ia lantas mengeluarkan silet, dan mengancam ibunya, Sumiati. Beberapa petugas mencoba menghadang Syarifa. Janda cantik itu malah memasukkan silet ke dalam mulut dan menelannya. Reportase Karni itu menjadi berita utama Suara Karya, Senin, 23 Juli 1973. Judulnya: Akhir Kisah “Siti Nurbaya 73.” Syarifa Telan Pisau Silet. Itu menjadi liputan ekslusif. Media lain tidak ada yang memberitakannya.

Berita ekslusif tentang Syarifa Syifa membuat wartawan Tempo, Harun Musawa, melirik Karni. Ia mengajak Karni gabung ke Tempo. Setelah ikut tes dan dinyatakan lulus, Karni resmi menjadi wartawan Tempo sejak November 1978.

Setelah lima tahun berkubang sebagai reporter Tempo, Karni dipercaya menjadi penanggung jawab rubrik Hukum. Namun, pengangkatannya tertunda beberapa bulan, karena ia ditugaskan ke Surabaya untuk membenahi koran Jawa Pos yang baru dibeli oleh PT Grafiti Pers, penerbit majalah Tempo. Bersama Dahlan Iskan, Karni menggenjot mutu pemberitaan koran tersebut. Ia merangkap koordinator liputan dan editor naskah para reporter. Setelah berhasil mengangkat oplah Jawa Pos, Karni ditarik kembali ke Jakarta.

Saat menjabat Redaktur Pelaksana Tempo, Eris Samola, owner Tempo, meminta Karni Ilyas untuk memimpin FORUM Keadilan. Itu adalah majalah yayasan instansi Kejaksaan Agung yang belum banyak dikenal orang. Di tahun kedua terbit, 1990, pengelolaan FORUM Keadilan ditangani Grafiti Pers.

Grafiti Pers mengalokasikan Rp 800 juta untuk penerbitan FORUM. Target tiras 50 ribu eksemplar. Dalam waktu satu tahun, target itu tercapai. Di tahun kedua setelah ditangani Grafiti Pers, oplahnya melebihi 75.000. April 1994, oplah FORUM sudah di atas 100 ribu eksemplar.

Di tahun ketujuh, selain menjabat pemimpin redaksi, Karni juga menjadi anggota direksi. Namun, susunan pemegang saham majalah FORUM sudah berubah. Grafiti Pers menjual saham mereka pada tahun 1996, dan menggunakan uangnya untuk membayar pesangon seluruh karyawan Tempo. Pemegang saham mayoritas adalah seorang pemilik bank bernama Lilik Sumantri. Perlahan-pahan mencuat berbagai ketidaksepahaman dalam soal bagaimana majalah tersebut seharusnya dikelola. Puncaknya, 9 Agustus 1999, Karni Ilyas dipecat dari jabatan pemimpin redaksi.

Keluar dari FORUM Keadilan, Karni Ilyas dirangkul SCTV. Ia diberi jabatan Direktur Pemberitaan dan Hubungan Korporat SCTV. Kedudukannya sejajar dengan direksi lain. Ketika baru bergabung setahun dengan SCTV, Karni nyaris menjadi bagian dari pemerintahan Megawati Soekarnoputri. Ia disodori jabatan Jaksa Agung. Karni menolak. Akhir 2005, Karni Ilyas keluar dari SCTV. Ia kemudian bergabung dengan ANTV dengan jabatan pemimpin redaksi. Sejak 2008, Karni berkarya di TVOne. Jabatannya masih pemimpin redaksi. initasik.com|shan

Komentari

komentar