Bekas kantor Patih yang sedang diratakan | initasik.com
Sorot

Segera Selamatkan Cagar-cagar Budaya

initasik.com, sorot | Panas terik matahari tak menyurutkan semangat para pekerja meratakan bangunan bekas kantor Patih, Jl. Otto Iskandardinata, Kota Tasikmalaya, Kamis, 18 Mei 2017. Palu-palu beradu dengan kerasnya tembok.

Ada lebih dari tiga pegawai yang menghancurkan bangunan yang terakhir kali dipakai salah satu bank itu. “Katanya untuk pertokoan,” jawab salah seorang pekerja saat ditanya tempat tersebut akan dijadikan apa.

Peneliti Soekapoera Institute, Muhajir Salam, menjelaskan, keberadaan bekas kantor patih itu semestinya diselamatkan. Nilai sejarahnya tinggi. Itu menjadi salah satu penanda periode awal pembangunan Kabupaten Tasikmalaya. Awal dari pusat pemerintahan strategis.

Bangunan lainnya di antaranya kantor pengadilan (landraad; sekarang dipakai sekretariat FKPPI Kota Tasikmalaya), kantor pos, kantor listrik dan banyak lagi. Namun, pemerintah abai menyelamatkan cagar-cagar budaya yang ada di Kota Tasikmalaya. Telah banyak tempat bersejarah yang dihancurkan. Diubah bentuk. Dilibas kepentingan kemaruk.

“Cagar budaya itu jejak sejarah yang bisa memberi tahu bagaimana perkembangan daerah kita dari waktu ke waktu. Pemerintah seharusnya segera melakukan upaya serius untuk menjaga cagar-cagar budaya. Buat kawasan cagar budaya,” tuturnya.

Menurutnya, Pemkot Tasikmalaya tidak berbuat banyak untuk menyelamatkan tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah. Sampai sekarang tidak ada upaya untuk membuat payung hukum untuk melindunginya. Belum punya peraturan daerah.

Padahal, itu diperlukan untuk memagari aset-aset penting yang menjadi saksi bisu pembangunan kota ini. Pemkot Tasikmalaya belum terlihat melangkah ke arah itu. Tak heran, banyak tempat bersejarah yang hilang. Pemerintah tidak bisa berkutik saat terjadi pembongkaran cagar-cagar budaya.

“Kalau mau dibangun apapun, silakan. Tapi struktur aslinya jangan dihilangkan. Kantor patih itu sekarang hilang semua. Diratakan. Mengejar nilai ekonomi tidak mesti menabrak nilai-nilai sejarah dan budaya. Mau digunakan apapun silakan, tapi struktur bangunan dasarnya jangan diubah,” tandas Muhajir.

Ia menegaskan, masyarakat berhak tahu perkembangan peradaban di daerah ini. Tidak serta merta ada Kota Tasikmalaya kalau tidak ada Kabupaten Tasik. Kabupaten Tasik pun tidak ujug-ujug ada kalau tidak ada Sukapura. Tidak berdiri begitu saja.

Selain bekas kantor Patih, bangunan bersejarah lainnya yang kini sudah hilang di antaranya sekolah kaum tionghoa, Tjoeng Hoea Tjong Hoei (THTH), yang saat ini dipakai SMAN 5 Tasikmalaya. Ada juga kantor post, telegraaf en Telefoondienst (PTT) di Jl. Otto Iskandardinata. Kini, itu sudah jadi minimarket. Rumah Asisten Residen pun bernasib sama. Bangunan itu terakhir kali dijadikan Hotel Galunggung. Saat ini sedang dipugar.

“Kita pun punya bangunan bersejarah, yaitu gedung landraad (pengadilan). Itu salah satu bukti berdirinya Indonesia. Perjuangan pergerakan berawal dari sana. Para tokoh-tokoh pergerakan di era 1920-an, seperti HOS Tjokroaminoto, H. Ismail, Tan Malaka, H Agus Salim dan lain-lain, disidangnya di sana. Kasus-kasus besar yang mengguncang Hindia Belanda disidangkannya di gedung landraad,” papar Muhajir.

Dimintai pendapatnya terkait hal itu, Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman, tidak berkomentar banyak.  Ia berdalih, pemerintah masih melakukan pengkajian oleh dinas terkait. “Iya, nanti ditata,” ucapnya sambil terburu-buru masuk mobil.

Hal senada disampaikan Kepala Disbudparpora Kota Tasikmalaya, Undang Hendiana. Menurutnya, sampai saat ini belum banyak yang ditetapkan sebagai cagar budaya, selain situs Lingga Yoni. Itupun dikelola pusat.

“Proses penetepan cagar budaya itu tidak mudah. Kita harus memiliki tim ahli cagar budaya. Di tingkat lokal belum ada yang ditetapkan. Baru dugaan saja, melihat dari tekstur bangunannya,” dalihnya.

Pernyataan Budi dan Undang tidak sesuai dengan data yang ditulis dalam buku kecil yang disusun Disbudparpora Kota Tasikmalaya. Di dalamnya ada 19 titik yang ditetapkan sebagai cagar budaya. Semuanya berada di pusat kota. Di antaranya Penginapan Sunda (Jl. Tarumanagara 31), bekas kantor perusahaan vecht yang sekarang digunakan pool Damri, pendopo lama Kabupaten Tasikmalaya, stasiun kereta api dan rumah-rumah tinggal.

Dalam UU 11/2010 Tentang Cagar Budaya, pasal 5, dijelaskan, benda, bangunan, atau struktur dapat diusulkan sebagai cagar budaya bila memenuhi kriteria: berusia 50 tahun; memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan atau kebudayaan, serta memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa. [Jay/Syaepul]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?