Humaniora

Sejak 1980, Adang Tangani Penderita Sakit Jiwa

Kabupaten Tasik | Tak banyak orang peduli kepada mereka yang mengalami gangguan mental; sakit jiwa. Dari yang sedikit itu, Adang salah satunya. Sejak 1980, ia sudah punya kepedulian dan keahlian dalam menangani orang-orang yang terkena gangguan jiwa, depresi, dan pecandu narkoba.

Awalnya, Adang sering mendapat panggilan ke beberapa daerah untuk menyembuhkan orang gila. Sebagian besar pasien yang ditanganinya sembuh, dan semakin banyak yang meminta bantuan kepadanya. Hingga ahirnya keluarga pasien menitipkan anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa di balai pengobatan miliknya.

Sejak saat itu, balai pengobatan yang kantornya berada di warga Pasirhuni, Desa Sirnagalih, Kecamatan Cigalotang, Kabupaten Tasikmalaya, itu telah menjadi tempat penitipan orang yang mengalami sakit jiwa untuk dirawat. Sedangkan tempat praktiknya berada di perbatasan Cigalontang (Tasik) – Garut, yakni Kampung Cigarungsang 02/01, Desa Mekarsari, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut.

Tak hanya dari wilayah Garut dan Tasikmalaya, pasien-pasiennya ada juga yang berasal dari Bandung, Sumedang, Jakarta, Makasar, Demak, sampai Nusa Tenggara Barat. Latar belakang pasien pun beragam, mulai dari yang tidak lulus pascasarjana, pecandu narkoba, atau broken home. Sampai sekarang, telah banyak yang disembuhkan Adang. Mereka sembuh dan dapat bersosialisasi layaknya orang normal.

Dibantu istrinya, Ny. Ratna, dan Kusna Fauzun anaknya, mereka sekeluarga berusaha memberikan pelayanan yang terbaik buat pasiennya.  Untuk mencukupi kebutuhan para penderita gangguan jiwa tersebut, pengurus hanya mengandalkan sumbangan dari anggota keluarga yang menitipkan pasiennya. Namun tak jarang dari keluarga mereka yang hanya menitipkan tanpa memberikan sumbangan untuk perawatan.

Meski demikian para penderita gangguan jiwa tetap diurus tanpa membeda-bedakan.  Ia mengaku sering mendapat titipan pasien, tapi keluarganya tidak bertanggung jawab. Hingga kini ada pasien yang sudah dua bulan tidak pernah dijenguk keluarganya.

Alit Kustiawan, warga Pasirhuni, Desa Sirnagalih, Kecamatan Cigalotang, Kabupaten Tasikmalaya, yang turut membantu di tempat tersebut, menambahkan, dengan luas bangunan 64 m2 terdiri dari 1 ruang sekretariat dan 1 ruang pasien, tentunya ini belum cukup memadai untuk menampung pasien yang datang ke tempat mereka praktik.

Pasien yang datang ke balai itu dalam sehari kadang mencapai delapan orang, sementara kapasitas ruangan hanya mampu menampung untuk empat orang. Tak jarang, Adang menyuruh keluarga membawa pulang lagi si pasien karena tak ada tempat.

“Kami berharap bantuan dari pemerintah atau dermawan yang mau membantu para penderita gangguan jiwa, baik untuk kebutuhan sehari-hari atau untuk penambahan ruangan pasien. Selama ini sebagian besar biayanya ditanggung oleh keluarga Pak Adang, sedangkan penghasilan Pak Adang tidak pasti,” ujar Alit. initasik.com|salim

Komentari

komentar