Historia

Sejak Kapan di Tasikmalaya Ada Layar Tancap?

initasik.com, historia | Dulu, tiap kali ada acara-acara besar, seperti 17 Agustusan atau hajat keluarga, hampir dipastikan ada hiburan layar tancap. Orang menyebutnya misbar alias gerimis bubar.

Lantaran ditayangkan di tempat terbuka, saat hujan datang, tentu saja para penonton lari tunggang-langgang. Cari tempat berteduh. Maklum, yang punya hajat jarang menyediakan tenda. Malah bisa dibilang tidak pernah memasang tenda. Lapang atau tanah sawah yang mengering kerap dijadikan tempat pertunjukan.

Kendati harus bergelut dengan udara dingin dan gigitan nyamuk, pertunjukan misbar itu kerap dipenuhi penonton. Saat itu, layar tancap memang menjadi salah satu hiburan favorit. Seiring kemajuan teknologi, perlahan namun pasti hiburan tersebut tenggelam.

Sekarang, sangat jarang ada orang yang menyuguhkan layar tancap. Di pertengahan 1990 cuma satu-dua yang menayangkannya. Hiburan kolosal itu hanya menyisakan kenangan. Padahal, sejarahnya terbilang panjang. Bagi warga Tasikmalaya tempo dulu, layar tancap telah memberi warna tersendiri.

Muhajir Salam, peneliti Soekapoera Institute, dalam jurnalnya menulis, masyarakat Tasikmalaya sudah mengenal film atau sinema sejak 1917. Saat itu, terdapat sebuah perusahaan bernama Automobile Cinema Company yang dimpimpin seorang Belanda bernama Mr. Van Belkum.

Dengan kreativitasnya, Mr. Belkum merakit sejumlah perangkat sinema di Bandoengschen Autohandel untuk dijadikan pengangkat daya listrik yang dibutuhkan untuk pencahayaan dan kebutuhan lainnya dalam pertunjukan sinema.

Pertunjukan film diadakan di lapangan terbuka alias layar tancap. Mr. Belkum juga mengadakan pertunjukan sinema di gedung-gedung, mengelilingi pusat kota, pelosok desa, dan perkebunan di Tasikmalaya, Banjar, Garut, dan Ciamis.

Perusahaan Mr. Belkum ini terkenal dengan een reizende bioscoop atau sinema keliling. Biasanya, Mr. Belkum melakukan safari sinema ke pelosok itu pada musim panas. Mr. Belkum dapat disebut sebagai pelopor pementasan sinema di pelosok desa dan gedung-gedung di Tasikmalaya, Ciamis, dan Garut.

Pada tahun 20-an, openlucht-bioscoop atau sinema terbuka sering diadakan di lapangan pada acara festival Tasikmalaya. Pada tanggal 22 Juli s.d. Agustus 1922 diadakan  “Tasikmalaya Fair” atau “Jaarmarkt te Tasikmalaja” untuk mempromosikan aneka produk perdagangan pertanian, kerajinan, dan barang-barang industri lainnya untuk tujuan ekspor.

Pada rangkaian acara festival itu diadakan pasar malam, sekaligus pertunjukan sinema di lapangan terbuka. Tak heran, pada tahun 20-an, sinema sudah menjadi salah satu hiburan yang melekat dengan masyarakat Tasikmalaya. Pada dekade 20-an sampai dengan 30-an, kota Tasikmalaya sudah memiliki tiga gedung bisokop, yaitu Bioskop Galoenggoeng, Luxor Theater, dan Roxy Theater. [Jay]

Komentari

komentar