Pembuatan pupuk dari kotoran kambing | Dok. Pribadi
Informasi

Sekolah di Sini Bisa Bayar Iuran Pakai Kayu Bakar atau Kotoran Kambing

initasik.com, informasi | Ada banyak penyebab anak putus sekolah. Salah satunya terbentur biaya. Tidak punya cukup uang. Jangankan untuk bayar keperluan sekolah, memenuhi kebutuhan sehari-hari juga susah.

Berangkat dari kenyataan itu, pada 2014 Yayasan Padma Pertiwi Nusantara mendirikan SMA Plus Padma Pertiwi, di Situsari, Kelurahan Sukalaksana, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya.

“Sekolah ini didirikan bagi kalangan-kalangan tertentu yang tidak memiliki kesempatan melanjutkan sekolah ke jenjang SMA, seperti anak yatim piatu yang terbentur kemampuan ekonomi,” tutur Sansan Warsana, ketua Yayasan Padma Pertiwi Nusantara kepada initasik.com, Jumat, 13 Juli 2018.

Bukan hanya anak yatim piatu, mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu juga punya peluang yang sama. Mereka bisa sekolah di sini tanpa harus pusing membayar iuran bulanan. Sekolah punya kebijakan yang oleh sebagian masyarakat dinilai aneh.

Sansan menjelaskan, sekolahnya tidak mengharuskan siswa membayar iuran bulanan pakai uang. Beras atau kayu bakar juga bisa. Bahkan dibayar kotoran kambingpun diterima. Itu nantinya akan diolah jadi pupuk organik.

“Sekolah ini didirikan di atas tanah yang sudah rusak oleh penambangan pasir. Kita punya misi menghijaukan kembali tanah ini dengan menebar pupuk organik yang didapat dari siswa sebagai bentuk bayar SPP,” paparnya.

Ia melanjutkan, “Kalau bayar SPP di sini Rp 60 ribu, maka seorang siswa bisa membawa sekitar 12 karung kotoran domba untuk dijadikan pupuk. Selain itu, anak-anak juga diajarkan untuk membuat kompos.”

Jika memang orangtua siswa tidak bisa membayar dengan beras, kayu bakar, atau kotoran kambing, pakai tenaga juga bisa. Di sekolah ini setiap Sabtu ada praktik lapangan. Siswa diajarkan bercocok tanam dan beternak hewan.

Oleh sekolah, praktik lapangan itu dibayar. Per pekan upahnya Rp 15 ribu. Tidak secara tunai, tapi dikonversikan ke SPP. “Pada hari Sabtu itu anak-anak merawat tanaman, ternak hewan dan lainnya. Kalau dihitung satu bulan ada empat minggu, otomatis SPPnya lunas,” terang Sansan.

Ditanya soal sumber dana bagi para tenaga pendidik, Sansan menyebutkan, yayasan tidak mengandalkan dari sekolah. Ada koperasi yang dikelola Yayasan Padma Pertiwi Nusantara. “Kalaupun ada siswa yang bayar SPP pakai uang, kami tidak dibiasakan menggunakan uang itu. Kami menggunakan dari sumber lain. Di sini juga ada ternak yang bisa menghasilkan telur kita jual. Ada budidaya jamur, kita jual. Ada lagi olahan makanan dari hasil panen, kita juga jual itu,” bebernya. [Eri]