Dok. Soekapoera Institute
Historia

Sekolah Modern Pertama di Tasikmalaya Dibangun pada 1871

initasik.com, historia | Sekolah modern pertama di Tasikmalaya dibangun pada 1871. Sebuah koran berbahasa Belanda bernama Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, edisi 24 Juli 1871, mewartakan, pendirian sekolah pribumi itu diperuntukkan bagi kalangan terbatas. Khusus kaum menak.

Tiga puluh tahun kemudian, seperti yang ditulis Soekapoera Institute dalam jurnal “Sejarah Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya”, tahun 1901 menjadi momentum penting perkembangan sekolah modern di Tasikmalaya. Pada 17 Oktober 1901, Ratu Wihelmina mendeklarasikan kebijakan baru mengenai formulasi kebijakan Ethische Politiek (Politik Etis).

Deklarasi politik etis membawa dampak langsung pada bergeloranya semangat pertumbuhan sekolah modern bagi rakyat pribumi di Tasikmalaya. Pada 1907, kebijakan etis telah mendorong pemerintah kolonial untuk mendirikan sekolah rakyat (sakola ra’yat/volksschol) di desa-desa di Tasikmalaya. Sekolah itu sering juga disebut sekolah desa (sakola desa/dessaschollen).

Setelah berdiri sekolah-sekolah di pedesaan, masyarakat kalangan bawah baru dapat menikmati pendidikan modern. Mereka diajarkan membaca dan menulis tulisan latin, berhitung (matematika), bahasa Belanda dan lain sebagainya.

Namun, kepedulian pemerintah kolonial dalam pendidikan masyarakat pribumi rendahan sangatlah memprihatinkan. Sekolah rakyat yang diselenggarakan di desa-desa itu berjalan alakadarnya dengan sarana penunjang seadannya. Sekolah-sekolah tersebut dibiayai secara swadaya oleh masyarakat. Keberlangsungan pendidikannya hanya mengandalkan jasa perjuangan, pengorbanan, dan pengabdian mulia para mantri guru di desa-desa. Sebagaian besar guru itu menjadi tokoh pergerakan yang berhimpun dalam berbagai wadah pergerakan.

Hampir seluruh perhimpunan pergerakan Tasikmalaya memiliki perhatian serius terhadap pendidikan rakyat rendahan. Situasi itu mengimbangi lemahnya kepedulian pemerintah kolonial. Sarekat Islam (S.I.) Tasikmalaya, yang berkembang pesat tahun 1914-1918, memiliki ribuan anggota, mendirikan sekolah S.I. (setingkat SD).

Bahkan, S.I. Tasikmalaya memiliki jaringan mantri guru di berbagai sekolah rakyat. Beberapa mantri guru di antaranya menjadi tokoh penting dalam pergerakan S.I. dan menjadi tokoh usaha revolusi diTasikmalaya.

Demikian juga Sarekat Rakjat (S.R.) yang pada 1924 berusaha mendirikan sekolah-sekolah S.R., termasuk kursus-kursus ideologi. Namun usaha itu dihalangi pemerintah kolonial yang khawatir faham ideologi itu berpotensi pada perlawanan dan pemberontakan.

Ahmad Atmadja, ketua pergerakan Paguyuban Pasundan Tasikmalaya era 20-an, adalah pelopor sekolah modern di Tasikmalaya. Ia berhasil mempelopori kemajuan pendidikan dan pengajaran di Tasikmalaya.

Pada 1920, R. Ahmad Atmadja mendirikan Bale Pawulangan Pasundan (BPP). Pendirian BPP didasari oleh beberapa latar belakang, seperti sekolah-sekolah rakyat yang berkualitas hanya sedikit jumlahnya, sehingga kesempatan mereka untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran masih sangat terbatas.

Latar belakang lainnya adalah sekolah-sekolah yang ada hanya menjalankan program pengajaran yang ditetapkan oleh pemerintah Belanda, sehingga sekolah rakyat sama sekali tidak mengembangkan pengajaran nilai-nilai tradisi dan kebudayaan sendiri (Sunda). Juga, biaya pendidikan pada sekolah pemerintah sangat mahal, tidak sebanding dengan kemampuan ekonomi rakyat rendahan.

Sejak berdirinya, BPP memusatkan kegiatannya pada pendirian sekolah-sekolah dengan kualitas standar untuk rakyat rendahan; menyusun dan mengembangkan program pengajaran nilai-nilai tradisi dan budaya sunda; dan mengusahakan beasiswa bagi golongan rakyat rendahan dengan mendirikan Commitee Studiefond Pasoendan.

BPP mengawali perjuangannya dengan mendirikan sekolah dasar pribumi yang bernamaVolkschool Pasoendan. Tahun 1924, sekolah ini berubah menjadi Holland InlandscheSchool (HIS) Pasundan Tasikmalaya.

Pada saat yang sama, BPP mendirikan sekolah dasar untuk pelajar perempuan bernama Sakola Kautamaan Istri Pasundan. Langkah P.P. Tasikmalaya ini menjadi perhatian serius cabang P.P. lainnya di Jawa Barat, sehingga keberhasilan P.P. cabang Tasikmalaya ini diiukuti dihampir seluruh kabupaten di tatar Pasundan.

Pada tahun 1928, R. Ahmad Atmadja bersama BPP berhasil mendirikan sekolah menengah pertama di Tasikmalaya. Sekolah menengah pertama itu bernama Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Pasundan Tasikmalaya. Berselang lima tahun, 1933, BPP mendirikan Kweekschool Pasoendan.

Pendirian sekolah ini dilatarbelakangi oleh masih sangat terbatasnya tenaga pengajar (guru) di Tasikmalaya. Tiga tahun berikutnya, yaitu tahun 1936, BPP mendirikan Handelschool, yang ditujukan untuk meningkatkan ketrampilan rakyat dalam bidang perdagangan.

Sampai tahun 1938, pendidikan di Tasikmalaya cukup bergairah. Masyarakat Tasikmalaya sudah terbangunkan kesadarannya untuk menyekolahkan  anaknya pada pendidikan formal. Berkembangnya pendidikan di Tasikmalaya  pada  masa  itu, menjadikan kota Tasikmalaya sebagai sentral pendidikan di Priangan Timur.

Siswa yang belajar di Tasikmalaya banyak yang berasal dari Garut, Ciamis, Sumedang, Cilacap, Kuningan, dan Purwokerto. Selain itu, sekolah-sekolah di Tasikmalaya telah banyak melahirkan almunus yang menjadi tokoh pergerakan lokal maupun nasional. ***

Keterangan foto: Murid HIS Pasundan Tasikmalaya, 1925

Komentari

komentar

Komentari

Komentari