Inspirasi

Sekolah Rakyat di Kampung Asing

Kabupaten Tasik | Kampung Citangkil. Tak banyak orang tahu dengan nama kampung tersebut. Saat initasik.com menanyakannya kepada beberapa orang, semua geleng kepala. Kebingungan. Warga di kampung-kampung yang terlewati mengaku tidak tahu.

Nama kampung itu masih asing bagi mereka. Padahal, mereka tinggal di desa yang sama dengan Kampung Citangkil: Desa Pameutingan, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya. Bagi sebagian orang, ternyata Citangkil dikenal sebagai nama gunung. Bukan kampung.

Benar saja. Kampung tersebut berada di gunung. Perlu tenaga ekstra untuk mencapainya. Beruntung, saat initasik.com bertandang ke sana cuaca sedang cerah. Bila hujan, medan akan sulit dilewati. Harus pakai motor khusus yang siap menggilas jalan tanah yang licin. Setelah melewati beberapa perkampungan, lalu masuk jalan setapak di antara semak belukar, akhirnya sampai juga ke tempat tujuan.

Sebuah rumah kayu tingkat dua berdiri di antara rimbun pepohonan. Rumah itu menjawab pertanyaan dalam hati, “kapan sampai?” Rumah sederhana. Tidak dicat. Tak ada ukiran sama sekali. Ornamen hiasannya hanya pemasangan kayu yang diatur sedemikian rupa, plus penempelan akar pohon. Di rumah itulah Harun Wijaya, 38 tahun, tinggal bersama keluarganya. “Rumah ini baru dibangun Juni 2014,” sebut Harun, beberapa waktu lalu.

Di perkampungan itu, suasananya beda dengan tempat lain. Jarak dari satu rumah ke rumah lain berjauhan. Penduduknya tak lebih dari 20 KK. Tidak ada listrik. Kalau malam dipastikan sepi. Seperti tidak ada kehidupan. Entah apa yang membuat mereka bertahan di tempat itu. Tapi Harun punya alasan sendiri. Baginya, rumah itu bukan hanya untuk tempat tinggal. Ia menggunakannya juga sebagai sekolah.

Ya, sekolah. Namanya sekolah Sindang Harapan. Harun menyebutnya sekolah rakyat. Di rumah itulah ia mendidik anak-anak. Dari lima ruangan yang ada, tiga di antaranya digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Ada sembilan anak yang diajari dua orang guru tetap dibantu beberapa relawan. Satu dari dua guru itu lulusan SD. Yang satu lagi seorang sarjana yang mengabdikan diri sambil berkebun. Harun sendiri hanya tamat SD.

“Kami ingin menyelamatkan anak-anak di sini yang putus sekolah dan tidak pernah sekolah,” jawab Harun saat ditanya alasan mendirikan sekolah tersebut. Di antara sembilan murid itu, salah satunya anak pertama Harun. Namanya Sri Wahyuni. Kelas enam. Ia merupakan murid pertama di sekolah Sindang Harapan tersebut. Dari pernikahannya dengan Atik Tikasari, ia diamanahi dua orang anak. Satu lagi namanya Adi Purnama. Usianya baru empat tahun. initasik.com|ashani/asm

 

Komentari

komentar