Seni Budaya

Seni Rudat; Dulu Jadi Media Pengingat Waktu Salat, Juga Latihan Silat


initasik.com, seni budaya | Kesenian yang satu ini memang tidak sefamiliar calung, reog, atau yang lainnya. Namanya Rudat. Terdengar asing. Belum banyak orang yang mengetahuinya. Padahal, umurnya disebut-sebut sudah ada sejak 1875.

Mahpud, pelestari seni Rudat di Kampung Pangadagan, Desa Cibalanarik, Kecamatan Tanjungjaya, Kabupaten Tasikmalaya, menyebutkan, kesenian itu bukan semata untuk hiburan. Ada misi dakwah di dalamnya.

“Dulu, fungsinya untuk memberi tahu masuknya waktu salat. Sebelum azan, alat-alatnya ditabuh. Kalau sekarang semacam beduk. Setelah salat, dilanjutkan dengan nyanyian dan makan-makan. Ada jamuan,”  tutur Mahpud.

Ia menjelaskan, ada tiga unsur utama dalam seni Rudat, yaitu syiar agama melalui syair yang diambil dari Barzanji, silat, dan seni musik dengan menggunakan terbang dan jidor. Menurutnya, Rudat diadakan pada awalnya untuk menarik orang-orang untuk ke masjid saat waktu salat datang. Apalagi waktu itu jarak dari rumah ke rumah lainnya berjauhan. Tidak sepadat sekarang.

Pria berusia 68 tahun itu mengaku sudah bermain Rudat sejak 1975. Sampai sekarang masih melakoninya. Ia bersyukur masih ada anak-anak muda, mulai usia SD sampai dewasa, yang mau memainkannya. “Kesenian ini wajib kita lestarikan,” tandas pengelola Sanggar Situ Sanghyang itu.

Terpisah, Ikin, sesepuh Rudat Mekar Kencana, Kecamatan Sodonghilir, Kabupaten Tasikmalaya, menyebutkan, kesenian itu muncul akibat adanya tekanan dari penjajah Belanda yang tidak ingin rakyat Indonesia memiliki keahlian seni beladiri yang mumpuni, karena dikhawatirkan rakyat bakal melakukan perlawanan. Waktu itu, pencak silat dan seni beladiri lainnya dilarang.

“Saat itu kebanyakan seni beladiri banyak dikembangkan di lingkungan pesantren, selain secara fisik mereka terlatih namun juga spiritualnya terisi dengan nilai-nilai keagamaan yang tinggi. Namun di sisi lain harus disiasati agar tidak dilarang oleh penjajah, makanya dikembangkan kesenian yang namanya Rudat,” paparnya.

Ikin mengakui, apabila seni Rudat ini bukan hanya berada di wilayah Kecamatan Sodonghilir tetapi juga berkembang di daerah lain di sejumlah kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya. “Mungkin dulu para karuhun dan sesepuh pesantren satu sama lain tetap melakukan komunikasi berkenaan dengan tekanan penjajah seperti itu, sehingga satu sama lain saling mengadopsi. Tetapi saya yakin tujuannya sama, serta Alhamdulillah kesenian ini sampai sekarang masih tetap ada dan bertahan,” ungkapnya.

Sementara itu, Penanggungjawab Seni Rudat Kecamatan Sodonghilir yang juga Sekmat Sodonghilir, Sumarna Candra, menyebutkan, seni Rudat butuh perhatian dari semua pihak agar tetap ada. “Alhamdulillah, di wilayah Kecamatan Sodonghilir banyak anak-anak muda yang mau belajar seni Rudat ini, karena sekaligus berlatih pencak silat,” sebutnya. [Jay/Kus]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?