Peristiwa

Senyum Bahagia Para Tenaga Honorer Pemkab Tasik

initasik.com, peristiwa | Ribuan tenaga honorer Kabupaten Tasikmalaya tumplek di Masjid Agung Baiturrahman, Singaparna, Jumat, 1 Juni 2018. Rona ceria terpancar dari wajah mereka. Semringah, karena akan mendapatkan pengakuan dari pemerintah.

Pemkab Tasikmalaya akhirnya resmi menerbitkan surat keputusan tentang penugasan tenaga honorer kategori 2. Sebanyak 1.904 tenaga honorer kategori 2 berhak mendapatkan surat keputusan yang ditandatangani Wakil Bupati Tasikmalaya, Ade Sugianto, itu.

“Saya atas nama pemerintah daerah, mewakili seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, mengucapkan terima kasih pada dedikasi semuanya, dan hari ini Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kebahagiaan bagi kita. Berkat perjuangan bersama rekan-rekan, akhirnya hari ini Pemkab Tasikmalaya mengakui saudara-saudara,” tutur Ade.

Menurutnya, selama ini pemerintah daerah bukan berarti diam, tapi terbentur aturan yang ada. Ade mengaku gagap, karena para tenaga honorer yang mengabdi di sekolah swasta cepat mendapatkan pengakuan dari yayasan, sementara mereka yang bekerja di pemerintah terlambat mendapatkan itu.

“Tapi, meski tidak diakuipun, saudara-saudara masih setia memberikan ilmu kepada anak-anak kita. Saya yakin dan percaya, itu akan menjadi amal saleh. Kami memberikan pengakuan ini tidak asal-asalan. Sebelumnya telah melakukan verifikasi. Kami tidak ingin ada orang yang datangnya ujug-ujug mendapatkan pengakuan ini, apalagi pakai uang sogok,” paparnya.

Penerbitan surat keputusan penugasan itu disambut hangat oleh Eman. Pria yang sudah lebih dari 20 tahun menjadi penjaga sekolah di SD Raksajaya, Sodonghilir, itu mengaku senang mendapatkannya.

Selama puluhan tahun bekerja tidak pernah diakui secara resmi oleh pemerintah. Tenaganya dibutuhkan, namun selembar surat pengakuan dari pemerintah tidak pernah diterimanya. Namun, kali ini ia mengaku bahagia. Keberadaannya sudah diakui secara resmi oleh pemerintah kabupaten tasikmalaya.

Dengan surat keputusan tersebut, Eman berharap akan ada kenaikan gaji. Selama ini, dalam sebulan rata-rata gajinya hanya Rp 200 ribu, bahkan tak jarang dapat Rp 100 ribu. Untuk menutupi kebutuhannya sehari-hari, Eman harus kerja serabutan.

Harapan serupa dilontarkan Jajang, guru honorer di SD Tanjung, Parungponteng. Ia sudah 16 tahun mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Meski sudah puluhan tahun, gajinya sebagai honorer masih di bawah Rp 500 ribu.

Untuk menutupi kebutuhan hidup yang semakin menumpuk, Jajang buka jasa jahit baju. Usai mengajar di sekolah, ia menjahit baju di rumahnya. Kendati penghasilan dari menjahit baju bisa dibilang lumayan, Jajang tak ingin meninggalkan dunia pendidikan.

Ketua Forum Honorer Kategori 2 Indonesia Kabupaten Tasikmalaya, Nasihin, menyampaikan terima kasihnya kepada Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya yang telah merespons aspirasi para tenaga honorer. Ia dan rekan-rekannya memang membutuhkan legalitas dalam bekerja.

“Alhamdulillah, ini maraton dari 2014, hari ini kami mendapatkan kemenangan. Alhamdulillah dengan Plt bupati ini kami bisa diakomodir dengan diberi pengakuan. Ini langkah jelas untuk menjadi ASN. Kami sangat gembira,” beber Nasihin. [Jay/Mon]

Komentari

komentar