Humaniora

Sepuluh Tahun Derita Penyakit Kaki Gajah, Wahyudin tak Pernah Ditolong Pemerintah

initasik.com, humaniora | Nasib malang dialami Wahyudin, warga Kp. Sambong, Desa Gunungsari, Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya. Sejak usia delapan tahun, ia menderita penyakit kaki gajah atau filariasis.

Praktis, ia tidak bisa banyak beraktivitas. Itu dialaminya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Lantaran mengidap penyakit itu, ia terpaksa putus sekolah, karena sering diejek teman-temannya. Ia minder.

Di usianya yang sudah menginjak 19 tahun, Wahyudin hanya diam di rumah. Jangankan bepergian jauh, untuk mengangkat kakinya saja kesulitan. Kini, kaki kirinya membengkak hingga seberat 15 kilogram. Hal itu diperparah dengan kondisi ekonomi keluarganya yang minim, sehingga ia tidak bisa diobati  maksimal.

Naedi, ayah Wahyudin, menceritakan, awalnya, saat usia delapan tahun, anaknya menderita bintik bintik di kaki sebelah kiri. Dikiranya itu hanya penyakit gatal. Namun, beberapa bulan kakinya membengkak.

Ia mengaku sudah membawa anaknya ke rumah sakit. Dirawat selama 12 hari. Namun, lantaran terbentur masalah keuangan, Wahyudin terpaksa dibawa pulang. Kini, ia hanya mengandalkan pengobatan alternatif dengan meramu obat-obatan tradisional.

Kendati saat saat ini Pemkab Tasikmalaya sudah mencanangkan pemberian obat pencegahan massal (POPM) filariasis, Naedi mengatakan, anaknya belum pernah tersentuh program tersebut.

Ia berharap pemerintah segera mengulurkan bantuan kepada anaknya agar bisa sembuh dan beraktivitas seperti biasa. “Mudah-mudahan juga ada agniya yang mau membantu kami,” harapnya. [TS]

Komentari

komentar