Etalase

Sepuluh Tahun Merantau di Riau, Paijo Pulang Kampung Jualan Tungku

initasik.com, etalase | Bagi sebagian orang, bekerja menjadi pilihan utamanya. Namun, sebagian lainnya memilih membuka usaha ketimbang bekerja. Ada juga yang merantau, kerja di kampung orang, dengan harapan dapat uang lebih banyak.

Paijo (51), misalnya. Selama sepuluh tahun ia bekerja di Riau menjadi petani kelapa sawit. Tapi, itu dulu. Ia memutuskan pulang dan memilih membuka usaha. Jualan tungku tradisional yang terbuat dari lumpur laut.

Menurut Paijo, menggunakan bahan dari tanah liat bisa saja, namun bobotnya akan lebih berat, juga bila api terlalu panas, bisa pecah. Lain halnya dengan lmpur laut, selain ringan, juga lebih tahan panas. Kekurangannya hanya saja gampang pecah apabila terjatuh. “Tapikan kalau masak ngga dibawa-bawa, cukup disimpan,” ujarnya tertawa.

Ia mengaku, tungku-tungkunya itu dipasok dari daerah Lampung. Di sana, bahannya setengah jadi. Tugas Paijo di sini hanya tinggal membuat lubang udara untuk perapiannya dan mengecatnya agar lebih menarik.

Untuk memasarkannya, Paijo berkeliling dengan sepeda motor. Sekali ngider, sepuluh tungku ia akut. Menurutnya, peminat tungkunya ini banyak, apalagi di kampung. Di tengah mahalnya harga gas elpiji, tungku menjadi pilihan alternatif bagi masyarakat kampung.

Pria yang tinggal di Jalan Mangunreja, Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya itu menyebutkan, dalam sebulan, omzetnya mencapai Rp 3 juta sampai Rp 5 juta. [Eri]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?