Deddy S.B. | Jay/initasik.com
Informasi

Setiap Tahun 27,22 Hektar Lahan Pertanian di Kota Tasik Dialihfungsikan

initasik.com, informasi | Alih fungsi lahan pertanian di Kota Tasikmalaya tak terkendali. Setiap tahun, sebanyak 27,22 hektar lahan produktif dialihfungsikan jadi pusat bisnis, perumahan dan lainnya.

Akibatnya, pasokan pangan, terutama beras, defisit. Dari kebutuhan 70 ribu ton per tahun, yang bisa dipenuhi baru sekitar 48 ribu ton sampai 50 ribu ton. “Jelas, ada dari dampak alih fungsi lahan pertanian. Banyak yang membangun perumahan di lahan produktif,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Tasikmalaya, Deddy S.B.

Ia menyebutkan, kalau dirata-ratakan, alih fungsi lahan produktif ke perumahan dan lainnya mencapai 27,22 hektar. Kini, total lahan yang bisa ditanami padi ada 5.960 hektar dengan hasil padi rata-rata 9,2 ton per hektar.

Sebagai upaya antisipasi, pihaknya sedang mengaji pembuatan lahan pertanian berkelanjutan. Diharapkan, peraturan daerahnya kelar tahun ini. “Kami juga sekarang sedang membuat kajian untuk memberi insentif bagi daerah-daerah yang dipersiapkan untuk lahan pertanian berkelanjutan. Lahan pertanian berkelanjutan itu dari sisi benih dan pupuk disubsidi penuh oleh pemerintah,” terangnya.

Bukan hanya itu. Para petani yang punya anak sekolah akan diberi perhatian khusus. Misalnya membebaskan biaya-biaya sekolahnya. “Itu salah satu upaya pengendalian alih fungsi lahan. Sekarang lagi dikaji. Kita akan undang akademisi dan konsultan,” imbuh Deddy.

Disinggung soal antisipasi musim kemarau, ia mengaku telah mengajukan bantuan ke Kementerian Pertanian dan Dinas Pertanian Provinsi. Sudah ada beberapa kelompok tani yang diberi peralatan bantuan, seperti pompa air.

“Tapi kendala di lapangan, pompa air belum memungkinkan mengambil langsung dari sumbernya, karena terlalu jauh. Kalau membuat sumur bor, kita belum punya alat dan anggaran yang memadai,” tuturnya.

Menurutnya, mesti ada pengeboran khusus di beberapa daerah yang memungkinkan untuk itu. Ada beberapa titik yang bisa diambil air bawah tanah, seperti di daerah Mangkubumi, Kawalu, dan Cibeureum. [Jay]