Peristiwa

Setiap Tahun Ratusan PNS Pensiun, Dominan Guru

Kabupaten Tasik | Setiap tahun, ratusan pegawai negeri sipil (PNS) memasuki masa pensiun. Jumlahnya mencapai 500 orang. Dominannya guru. Tahun ini saja ada sekitar 250 guru yang mengakhiri masa abdinya.

Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Latihan Daerah Kabupaten Tasikmalaya, Iin Aminudin, menyebutkan, tanpa ada yang pensiun pun, untuk di lingkungan pendidikan terdapat kekurangan tenaga pengajar hingga enam ribu orang.

Ia menghitung, kalau satu sekolah dasar (SD) minimal butuh sembilan orang pengajar, maka sedikitnya diperlukan lebih dari 9.700 guru. “Sekarang kita memiliki guru SD sekitar 5.000an. Itu baru SD. Belum TK, SMP, dan SMA atau sederajat,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Menurut Iin, total kebutuhan guru di Kabupaten Tasikmalaya mencapai 15 ribu orang. Sedangkan yang ada dalam catatannya hanya berkisar 9.000 guru. “Sekarang kita masih punya honorer K2 sebanyak 2.063 orang. Mereka sudah mengikuti tes CPNS 2013 tapi belum diangkat CPNS. Kita sudah mengusulkan kepada pusat agar mereka diprioritaskan,” tuturnya.

Untuk mengatasi kekurangan guru, solusinya mengoptimalkan sumber daya yang ada. “Itu harus dihadapi. Memang begitu kenyataannya. Kita tidak punya kewenangan menerima atau mengangkat PNS. Itu kewenangan Pusat,” tuturnya seraya menambahkan, dalam penerimaan CPNS 2014, Kabupaten Tasikmalaya hanya mendapat kuota 123 formasi.

Terpisah, Ketua Dewan Pendidikan Kota Tasikmalaya, Dwiadi Cahyadi, menilai, banyaknya guru yang pensiun tidak harus disikapi dengan kekhawatiran. Pengangkatan CPNS pun bukan solusi, karena beban APBD akan semakin berat. Banyaknya PNS berbanding lurus dengan pengeluaran anggaran daerah.

“Negara yang maju itu yang bisa membuat sekolah lebih mandiri dan menjadi swasta. Sekolah yang bisa menggaji pegawai dari kas sendiri, bukan dari APBD. Jika harus mengangkat lagi CPNS, maka pemerintah harus menyiapkan segalanya, terutama gaji,” jelasnya.

Ia lebih sepakat bila pemerintah mendorong agar sekolah-sekolah swasta lebih maju dan berkualitas. Dengan sendirinya mereka bisa hidup, tanpa bergantung pada APBD. “Kalau mutunya baik, masyarakat akan memasukkan anak-anaknya ke sekolah tersebut. Di Tasik ada beberapa sekolah swasta yang tidak mengandalkan uang negara, tapi mereka bisa menggaji pegawai dengan baik,” imbuh Dwiadi. initasik.com|syamil

Komentari

komentar