Dok. Pribadi
Seni Budaya

Siapa Bilang Musik Tradisional Sunda Kampungan?

initasik.com, seni budaya | Kecintaannya pada kesenian Sunda mendorong Deri Wardhani hijrah ke Kota Bandung. Setamat SMP, pria kelahiran Sindangkerta, Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, itu melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia. Waktu itu, di Tasikmalaya belum ada sekolah seni budaya.

Pilihan hidupnya tidak keliru. Dorongan nalurinya telah membawa pria kelahiran 26 Maret 1982 itu ke lingkungan yang membentuknya menjadi seniman berwawasan luas. Bukan hanya bisa memainkan alat, tapi juga ditunjang keilmuan akademik. Ia kuliah Pendidikan Seni Musik di Universitas Pendidikan Indonesia sampai S-2.

Pergaulannya pun tak tersekat batas. Pada 2013, ia dan rekannya terpilih ikut dalam One Asia Joint Consert, sebuah pertunjukan musik yang melibatkan pemusik-pemusik tradisional dari negara-negara Asia.

Sebelumnya, ia pernah main dalam Festival Paduan Suara Internasional kategori Lagu Daerah di Pattaya, Thailand (2007), kemudian Festival Indonesia di Melbourne (2009), dan Konser Keroncong di Denhaag, Belanda, 2016.

“One Asia itu digelar tiap tahun. Road show ke banyak negara. Konser pertamanya di Kamboja tahun 2013. Tahun berikutnya ke Myanmar (2014), Laos (2015), dan 2016 kemarin di Singapura. Dari Indonesia, alat musik tradisional yang terpilih dari Sunda,” papar pria yang akrab disapa Deri Bow itu.

Dijelaskan, One Asia Joint Consert mengusung konsep tradisi dan inovasi. Tujuannya mengenalkan keindahan suara instrumen tradisional negara-negara di Asia kepada dunia. Semangatnya adalah saling mengenal dan berkarya bersama, serta mengembangkan nilai-nilai dan inovasi. “Saya mengaransemen lagu es lilin, main bersama musisi Jepang,” sebut Deri.

Terkait inovasi dalam bermusik tradisional, Deri dan teman-temannya di Bandung membentuk Sons of Sangkuriang; grup yang menggabungkan musik tradisional Sunda dengan modern, khususnya rock.

“Itu vokalisnya orang Amerika. Kita ingin anak-anak muda tetap mencintai budayanya sendiri. Walaupun kita bermain genre rock, tetap punya jati diri Sunda. Supaya seni Sunda tidak monoton, kita harus mengemasnya sedemikian rupa agar bisa disukai semua kalangan. Bukan hanya di Indonesia, tapi dunia,” tuturnya.

Pencapaian-pencapain itu meyakinkannya kalau seni tradisional Sunda bisa mempunyai tempat luhur dan diterima semua kalangan. Persoalannya, sejauh mana para pelaku seni berinovasi dan mengkreasikan musik tradional, sehingga mampu bersaing di dunia musik global?

Menurutnya, salah satu upaya agar musik tradisional Sunda bisa digandrungi kawula muda adalah dengan berinovasi. Caranya, bisa dengan menggabungkannya dengan pop, rock, jazz dan sebagainya. [Jay]

Komentari

komentar