Inspirasi

Siapa Pemimpin Hebat di Abad Keempat?

Kabupaten | Kabupaten Tasikmalaya saat ini berada di abad keempat, terhitung sejak pengangkatan Raden Ngabehi Wirawangsa yang bergelar Raden Tumenggung Wiradadaha I menjadi bupati daerah Sukapura, 1632.

“Di setiap abad, kita menemukan sosok pemimpin yang hebat,” sebut Peneliti Soekapoera Institute, Muhajir Salam, saat dihubungi initasik.com melalui sambungan telepon, Kamis, 30 Juli 2015.

Selain Wirawangsa sebagai bupati pertama, jelas Muhajir, di seratus tahun pertama Kabupaten Tasikmalaya yang berpusat di Leuwiloa, Sukaraja, tercatat seorang pemimpin hebat bernama Raden Anggadipa I yang bergelar Raden Tumenggung Wiradadaha III (1674 – 1723). Panggilannya Dalem Sawidak.

Di masa Anggadipa I ini, kata Muhajir, ada kemajuan dari sisi pemerintahan. Ada pembagian kewenangan. Patihnya pun ada empat orang. Ketika membangun pusat pemerintahan di Sukaraja, dia menggagas pembukaan lahan sawah di sepanjang sungai Ciwulan. Kondisi perekonomian pun sangat unggul dengan menghasilkan batik, kapas, tarum, dan hasil hutan.

“Dan, yang paling penting di masa Kanjeng Dalem Sawidak ini adalah konstruksi sosial budaya yang mempengaruhi sampai hari ini, di mana kekuasaan tidak terpisah dari tokoh agama. Waktu itu pembimbing spiritual beliau adalah Syekh Abdul Muhyi,” terangnya.

Lalu, sambung Muhajir, di seratus tahun kedua saat pemerintahan Sukapura berpindah ke Manonjaya (1832). Sosok pemimpin yang menonjol saat itu adalah Raden Anggadipa II, bergelar Raden Tumenggung Wiradadaha VIII.

“Dia adalah tokoh sentral yang sangat kuat, dan memiliki keberanian mengambil keputusan yang berbeda dengan pemerintah kolonial. Ia teguh memegang prinsip dalam membela rakyat. Dia yang membangun pusat pemerintahan di Manonjaya, sehingga masyarakatnya sejahtera,” ungkapnya.

Kemudian di seratus tahun ketiga ada R.A.A Wiratanuningrat (1908-1937). Pada masa pemerintahannya, 1 Januari 1913, Kabupaten Sukapura diganti nama menjadi Kabupaten Tasikmalaya.

Muhajir menjelaskan, Wiratanuningrat merupakan sosok yang luar biasa. Ketika mengalami resesi ekonomi global, dia mengambil keputusan yang sangat strategis dan sampai hari ini masih dirasakan.

“Saat dihadapkan pada kesulitan ekonomi dan terancam kelaparan, Wiratanuningrat (1925) membangun lahan sawah seluas 14 ribu hektar di wilayah Lakbok. Sekarang, itu menjadi lumbung padi Jawa Barat. Sampai sekarang belum ada bupati yang mampu membuka lahan sawah seperti Wiratanuningrat,” tuturnya.

Menurutnya, di setiap abad pasti ada sosok pemimpin yang unggul. Pemimpin yang motivasi politiknya jelas, dan berorientasi untuk kesejahteraan masyarakat. “Kemajuan ekonomi di tiap masa biasanya ditandai dengan perpindahan ibu kota (kabupaten),” imbuh Muhajir. initasik.com|shan

 

Komentari

komentar