Ekbis

Siapkan Mental dan Punya Mimpi Besar Adalah Modal Pertama Jadi Pengusaha

initasik.com, ekbis | Modal dalam berwirausaha memang penting. Namun, ada yang tak kalah penting dari uang, yaitu mental pantang menyerah. Agi Apriadi, pemilik Kedai Stitaco, mengatakan, mental baja dan punya mimpi besar adalah modal pertama yang mesti dimiliki calon pengusaha.

“Kalau saya, mimpi besarnya ingin membahagiakan orangtua,” ujar Agi di sela Workshop Public Speaking and Entrepreneur yang digelar Badan Eksekutif Himpunan Mahasiswa Akuntansi Universitas Unsil, di Gedung Mandala Unsil, Rabu, 19 Juli 2017.

Menurutnya, untuk mendapatkan penghasilan ada dua kendaraan yang bisa digunakan, yaitu bekerja sebagai karyawan atau menjadi pengusaha. “Saya memilih jadi pengusaha. Setelah mempertimbangkan banyak hal, cara tercepat untuk bisa membahagiakan orangtua dan orang lain yaitu dengan berwirausaha,” tandasnya.

Jadi karyawan atau pengusaha dua-duanya memiliki plus-minus. Namun, bila ingin mendapatkan penghasilan tidak terbatas, berwirausaha adalah jawabannya. “Ingin dapat uang berapa, kita yang menentukan. Itu enaknya kalau jadi pengusaha,” sebut alumnus jurusan Manajemen Unsil itu.

Ia menceritakan, mulai merintis usaha sejak 2012 dengan berjualan olahan cokelat. Waktu itu masih kuliah semester 3. Pada 2015, ia lebih serius berbisnis. Jualannya masih seputar cokelat. Agi berinovasi membuat keripik cokelat bermerek Sticho.

Meski terbilang usaha baru, pasar meresponsnya sangat bagus. Dagangannya laku. Dalam sebulan laku sampai puluhan ribu bungkus. Bahkan, beberapa artis terkenal sempat mengendorse keripiknya. Namun, kesuksesannya tidak bertahan lama. Dalam hitungan bulan, usahanya bangkrut. “Intinya karena kesalahan manajemen,” sebutnya.

Lantaran gulung tikar, ia mesti menanggung utang sampai ratusan juta rupiah. Rekan bisnisnya balik kanan tanpa tanggung jawab. Ia dibuat tertekan. Mentalnya pun goyah. “Hal pertama yang saya lakukan saat down adalah tobat. Saya datang ke ustaz, bukan dukun, minta pencerahannya. Ia menyarankan agar jangan terlewat salat berjamaah. Saya lakukan itu. Alhamdulillah berangsur membaik. Dulu, dalam berusaha saya tidak melibatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Workshop Public Speaking and Entrepreneur, Ratna Nuraisyah, mengatakan, acara tersebut digelar untuk memberikan motivasi kepada para mahasiswa agar berani berwirausaha.

“Sesuai nama acaranya, public speaking and entrepreneur, tujuan kegiatan ini ingin menciptakan seorang pengusaha yang juga pintar bicara. Sebagai pengusaha pasti banyak berhubungan dengan orang-orang. Tentu itu diperlukan kemampuan bicara yang baik,” jelasnya. [Jay]