Etalase

Singgah ke Tempat Pembuatan Kerupuk Kulit di Selaawi

initasik.com, etalase | Pria berbaju biru itu tampak bergulat dengan kepulan asap yang keluar dari tiga buah tungku drum bekas. Kedua tangannya memegang sebilah kayu yang panjangnya melebihi tinggi badannya. Kayu itu digunakan untuk membolak-balikkan kulit sapi yang tengah direbus. Ia adalah satu dari empat pekerja pabrik kerupuk kulit di Selaawi, Kota Tasikmalaya.

Budi Mulyadi, pemilik pabrik, mengatakan, perebusan kulit merupakan salah satu tahapan untuk membuat kerupuk kulit asli. Proses awal yang mesti dilakukan adalah pembakaran kulit, agar bulu-bulu sapi yang menempel di kulitnya itu rontok.

Proses pembakaran memakan waktu kurang lebih satu jam, sehingga Budi memilih kayu bakar sebagai media untuk pembakaran karena dinilai lebih murah ketimbang menggunakan gas atau minyak.

Setelah proses pembakaran selesai, kulit sapi yang telah bersih dari bulunya itu barulah direbus, agar tekstur dari kulit lebih empuk. “Kalau sudah direbus, barulah kulit dikasih bumbu penyedap, terus dijemur sampai kering. Setelah kering baru bisa digoreng,” ujarnya.

Untuk penjemuran, itu bisa memakan waktu sampai berhari-hari. Tergantung cuaca. Kalau cuaca sedang terik, proses penjemuran cukup membutuhkan waktu selama tiga hari saja. Tapi kalau musim hujan, bisa lebih lama.

Menurutnya, urusan bisnis kerupuk kulit asli ini baru ia tekuni. Makanya, segala proses dari pembuatan kerupuk kulit masih dalam tahap penyempurnaan. “Baru tiga tahunan. Kalau dulu dari tahun 1997 saya bikin kulit garaman. Kulit sapi yang diolah untuk  digunakan bahan jaket. Tapi setelah banyak menerima giro palsu alias kosong, pada tahun 2002 saya bangkrut. Di tahun 2015, pabrik mulai bisa berjalan lagi, itupun saya putuskan untuk berjual dalam bidang makanan. Kapok di retail mah,” beber Budi.

Dalam sehari, pabrik yang memiliki luas sekitar duabelas kali enam meter itu bisa menghasilkan kerupuk kulit sampai dua puluh lima kilogram atau dalam sebulan bisa menghasilkan sampai tujuh ratus lima puluh kilogram.

Satu kilogramnya, kerupuk kulit asli hasil produksinya itu dijual Rp 120 ribu. Pemasarannya masih dalam kota. Saat ditanya soal omzet, pria berkumis baplang ini mengaku nominalnya belum cukup besar. Dalam sebulan kisaran Rp 10 juta. Namun, di Ramadan ini, omzetnya naik sampai tiga kali lipat. [Eri]

Komentari

komentar