Peristiwa

Siswa Tasikmalaya Wakili Indonesia Lomba Sains di Korea

 

Kota Tasik | Muhammad Dihya Aby Abdi Manaf, siswa SDN Citapen Kota Tasikmalaya, menjadi satu dari enam anak yang mewakili Indonesia untuk mengikuti lomba sains dan seni internasional, di Daejeon, Korea Selatan, 20 Oktober s.d. 24 Oktober 2016 mendatang. Perlombaan itu akan diikuti sekitar 14 negara.

Putra semata wayang dari pasangan Indra Somantri dan Pipit Indah Purwanti, warga Perum Kota Baru, Kota Tasikmalaya, itu berhak mengikuti World Creativity Festival (WCF) 2016 setelah mengikuti berbagai tahapan seleksi.

Ada lima tahapan seleksi sebelum dinyatakan berhak ikut WCF. Setiap tahap seleksi, kata Indra, calon peserta dikarantina di Jakarta selama satu minggu. “Walaupun sudah punya medali perak dalam OSN, tetap harus ikut seleksi,” sebutnya.

Disebutkan, tahun kemarin ia meraih medali perak dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) kategori IPA, di Palembang. “Sebenarnya dia diyakini bakal mendapat medali emas, tapi waktu itu anaknya sedang sakit. Trombositnya menurun. Jadi kurang maksimal mengikuti olimpiadenya,” tutur Indra seraya menambahkan, dalam ajang serupa, 2014, Dihya mendapat medali perunggu untuk kategori matematika.

Dalam WCF 2016 yang mengusung tema “Sharing Space” itu, Dihya salah satunya akan mempresentasikan makalah berjudul “D’compose Agent”. Ia membuat alat pengubah sampah organik menjadi pupuk kompos. Mesin pembuat kompos itu diberi nama “The Trash Eater”.

“Temanya kan bagaimana peserta bisa membuat proyek yang bermanfaat untuk orang lain. Sebenarnya Ibni punya 30 ide untuk lomba tersebut, tapi yang dipilih ‘D’compose Agent’, karena lebih sesuai tema,” papar Indra.

Ibni, panggilan akrab Muhammad Dihya, menuturkan bagaimana proses pembuatan kompos. Sampah organik dimasukkan ke dalam tong, lalu disemprot cairan penghancur sampah hingga berubah jadi pupuk. Ia berharap karyanya tersebut bisa meraih medali, sehingg mengharumkan nama Indonesia, khususnya Kota Tasikmalaya.

Ditanya cita-cita, Ibni mengaku ingin menjadi ilmuwan. Ia juga ingin membuat mesin yang bisa membersihkan udara atau merangkai mobil yang ramah lingkungan dan bisa menghasilkan oksigen. Gas buangnya bukan karbon monoksida, tapi oksigen. Ia yakin hal itu bisa dibuat dengan cara meniru proses fotosintesis pada tumbuhan. initasik.com|shan

Foto: Ibni bersama ayahnya, Indra Somantri

 

 

Komentari

komentar