Dok. Asep Sufyan Ramadhy
Refleksi

Sudahkah Anda Bersyukur?

Oleh: Asep Sufyan Ramadhy*

initasik.com, refleksi | Di puncak siang, Rasulullah SAW merasa lapar. Beliau lantas ke luar rumah. Didapatinya sahabat setianya Abu Bakar ash-Shiddiq tengah berdiam di mesjid. Tiba-tiba datang lagi sahabat Umar bin Khattab.

Singkat cerita, mereka sedang merasa lapar, sehingga mereka pergi keluar rumah untuk mencari makanan. Lalu Rasulullah SAW mengajak kedua sahabatnya mencari kurma dan air. Sampailah di rumah Abi Haitsam al-Anshari kemudian isterinya mempersilakan masuk dan mereka bertiga duduk di atas tikar di bawah sejuknya pohon kurma.

Sampai akhirnya Abu Haitsam datang, sambil tergopoh ia mendapati tamu kehormatan yang tak diundang dan dalam kondisi kelaparan. Ia lantas memanjat pohon kurma dan ia sediakan air minum untuk tamu-tamunya. Beberapa saat sebelum menyantap hidangan kurma dan air minum, Rasulullah SAW bersabda dengan merujuk ayat terakhir surat At-Takâtsur “tsumma latus alunna yaumaidin ‘anin-na’îm“. Subhânallâh.

Seringkali kita terjebak bahwa yang disebut nikmat itu adalah sesuatu yang besar saja. Rumah mewah, perhiasan, dapat uang banyak, lulus ujian, diterima jadi PNS, pulang umroh atau berhaji, jadi anggota dewan, atau tasyakuran yang lain-lain.

Karena mindset kita terlanjur demikian, maka kita akan kecewa dan bahkan ada yang putus asa karena tidak pernah mendapatkan nikmat-nikmat seperti itu. Bahkan sebagian di antara kita lupa dan bahkan meremehkan akan nikmat-nikmat kecil, tubuh yang sehat, udara yang gratis yang kita hirup setiap saat, jantung yang masih bisa berdenyut setiap saat dan mengalirkan darah ke seluruh tubuh, keluarga yang masih lengkap, dan masih banyak lagi.

Haruskah semua nikmat itu terlupakan hanya karena satu nikmat yang menurut kita besar yang belum bisa kita raih? Lihatlah bagaimana Rasulullah SAW mengajarkan agar kita menghargai setiap detail nikmat yang kita terima, lantas menghubungkannya dengan pertanggungjawaban di hari kiamat. Suap nasi yang masuk ke mulut, teguk air yang membasahi kerongkongan, dan udara hangat yang memenuhi rongga dada, dan lain-lain.

Jika nikmat-nikmat privat saja akan dihisab di akhirat, bagaimana dengan nikmat-nikmat yang berdiri di atas pundak banyak orang? Jabatan publik, harta, kekayaan. Rasanya jika kita betul-betul hendak mensyukuri nikmat yang kita terima, rasanya takkan cukup waktu untuk mengucap hamdalah.

Jangan gelisah karena nikmat yang belum diterima, gelisahlah karena nikmat yang belum disyukuri. []

*Alumnus SMAN 1 Kota Tasikmalaya, Dosen STIKes Kuningan

Komentari

komentar

Komentari

Komentari