Syaepul | initasik.com
Ekbis

Sulit Bahan Baku, Perajin Tikar Mendong Terancam Gulung Tikar


initasik.com, ekbis | Kerajinan mendong sudah ada sejak dulu, dan masih bertahan hingga sekarang. Sekitar 1970-an, pemerintah melakukan pembinaan intensif kepada para perajin. Pangsa pasar terbuka. Tembus mancanegara.

Kini, kondisinya berbeda. Banyak perajin yang beralih pekerjaan. Masuknya tikar plastik menjadi salah satu penyebabnya. Namun, penyebab yang paling menohok adalah sulitnya bahan baku. Mendong sulit didapat.

Ihok, salah seorang perajin, mengatakan, kesulitan bahan baku diakibatkan semakin berkurangnya lahan, karena dijadikan tempat bangunan. Juga tidak sedikit petani yang menilai kalau menanam mendong sudah tidak menguntungkan lagi.

Ketika keuntungan dirasa kurang, mereka beralih untuk menanam padi dibanding mendong. “Harga mendong Rp 800 ribu perkuintalnya, itu pun sulit didapat harus dari Malang dan Yogyakarta,” sebutnya saat ditemui di rumahnya Cibungur, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya.

Dahulu, kata dia, Tasikmalaya sempat menjadi penyuplai mendong terbesar di Jawa Barat. Dikirim ke Yogyakarta dan Malang. Sekarang kebalikannya. Untuk memenuhi kebutuhan, ia menanam sendiri mendong di tanah seluas 700 meter. Itu pun dirasa masih belum mencukupi.

“Satu tikar kira-kira membutuhkan 3 kg mendong. Dalam satu hari perajin mendapat 2 tikar ukuran 12 meter,” tandasnya.

Perajin lain, Indasah, 58 tahun, menjelaskan, dulu di daerahnya kegiatan menenun menjadi mata pencaharian kebanyakan warga. Sekarang, banyak yang meninggalkan. Beralih pekerjaan. Jadi penjahit pakaian, misalya. Ia, tetap berupaya bertahan untuk melestarikan dan menjaga kerajinan khas Tasikmalaya tersebut.

Perempuan yang mengaku sudah menenun sejak berusia 12 tahun itu menyebutkan, dulu hampir tiap rumah ada penenun tikar mendong. Sekarang hanya tinggal sekitar sepuluh orang. Banyak yang berhenti.

Salah satunya Annah, 35 tahun. Ia, memilih menghentikan usahanya lantaran  kesulitan bahan baku mendong. Sebelumnya ia biasa membeli mendong dan ditenunnya. Setelah bahan baku jarang dan mahal, keuntungannya sedikit. Tak sebanding dengan prosesnya. [Syaepul]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?