Sosial Politik

Taman Alun-alun Manonjaya Dikhawatirkan Jadi Tempat Maksiat

initasik.com, sosial | Ustaz Zamzam, guru mengaji di Masjid Agung Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, mengkhawatirkan pembuatan taman di lapang Manonjaya akan dijadikan tempat maksiat.

Menurutnya, di saat belum ada tamanpun, ia sering melihat orang-orang bermaksiat di lapang dan sekitarnya, apalagi kalau difasilitasi. “Saya bukan menolak penataannya, tapi pembuatan tamannya,” tandas Ustaz Zamzam.

Dia menceritakan, dirinya sering memergoki anak-anak remaja nongkrong sambil mengonsumsi minuman keras dan berpasangan. Sering juga terjadi perkelahian. Saat lebaran Idul Adha kemarin, misalnya, pihaknya melaporkan 15 remaja yang sedang minum di halaman Masjid.

“Tengah malam hingga subuh, masih ada anak-anak umur SMP atau SMA yang berkeliaran. Di sekitar masjid sering ditemukan bekas obat-obatan dan botol minuman keras. Siapa yang nanti akan menjaga taman tersebut supaya tidak disalahgunakan?” tanyanya.

Beberapa tahun ke belakang, sebutnya, ada yang tepergok sedang melakukan hubungan suami-istri di dalam toilet Masjid Agung. “Saya takut Manonjaya menjadi seperti kota lain. Pencurian mah sudah tidak aneh lagi. Semua itu terjadi sebelum ada taman. Bagaimana kalau sudah ada taman?” tandas pria berusia 36 tahun itu.

Menurutnya, banyak warga yang mengeluh dengan penataan lapang tersebut. Ada guru yang kebingungan bagaimana ke depannya anak-anak berolahraga dan memeringati hari-hari besar. “Kemarin saja dampaknya sudah terlihat. Waktu peringatan hari PGRI pelaksanaanya jadi semrawut. Tersebar di beberapa tempat. Kalau dulu tertampung semua di lapangan ini,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, wakaf lapang itu bukan untuk dijadikan taman, melainkan untuk sarana olahraga, upacara keagamanan, dan perayaan hari-hari besar nasional. Menurutnya, pembuatan taman tersebut merupakan penghamburan anggaran.

“Lebih baik, anggaran sebesar itu digunakan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat. Saya juga meragukan akan ada perawatan taman nantinya. Masjid ini juga yang masuk bangunan cagar budaya tidak ada perawatannya. Tidak diberi anggarannya,” beber Ustaz Zamzam. [Syaepul]