Edukasi

Tanamkan Akhlak Sejak Dini, Tangkal Dampak Negatif TIK


initasik.com, edukasi | “Kepada siapakah kalian minta tolong dalam kesulitan?” Begitu salah satu pertanyaan yang ditulis dalam papan berukuran sekitar 80 cm x 20 cm yang dipasang di dinding salah satu ruang di SDN 1 Sukagalih, Desa Sukagalih, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya.

Pertanyaan itu ditulis dalam tiga bahasa, yaitu Bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris. Begitupun dengan jawabannya. “Kepada Allah, Tuhan Kita. Ilallaaha Rabbanaa. To Allah, our God,” begitu ditulis dalam papan berlatar putih itu.

Bukan hanya satu. Di semua ruang ada papan-papan berukuran panjang yang berisi pesan-pesan kebaikan. Misalnya, “Imam Al-Bukharai ditanya, ‘apa obat lupa itu?’ Beliau menjawab, ‘dengan terus-menerus menelaah buku.”

Ada juga pesan lainnya yang maknanya sangat dalam, seperti, “Pendidikan ialah perhiasan di waktu senang dan tempat berlindung di waktu susah.”

Kepala SDN 1 Sukagalih, Ai Nendah, S.Pd, mengatakan, pesan-pesan seperti sengaja dibuat sebagai salah satu cara untuk menyampaikan ilmu kepada anak-anak didik. Pesannya luas. Macam-macam. Tentang pengetahuan umum dan agama.

“Kami ingin menanamkan akhlak pada diri anak sejak dini, sehingga tertanam kuat di hatinya saat mereka dewasa. Salah satu caranya melalui pesan-pesan dalam dinding sekolah,” ujarnya.

Ia menegaskan, penanaman akhlak sangat penting ditanamkan sejak dini. Apalagi, sekarang ini zamannya teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Segalanya bisa hadir dalam genggaman tangan. Baik atau buruk.

“Sebagai guru dan orangtua, kita sangat khawatir dengan nasib anak-anak ke depan, mengingat saat ini segalanya bisa didapat dengan mudah. Makanya, kami di sini melarang anak-anak membawa telepon seluler yang bisa akses internet,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Asep Suryaman S.Pd, kepala SDN 3 Sukaratu yang juga ketua PGRI Kecamatan Sukaratu. “Sekarang ini zamannya internet. Segala sesuatu ada di dalamnya. Kita harus menanamkan filter kepada anak. Caranya melalui penanaman akidah dan akhlak,” tandasnya.

Ia pun mengaku khawatir dengan perkembangan zaman ke depan. Untuk itu, orangtua dan guru harus membangun benteng dalam diri anak supaya tidak mudah diserang oleh hal-hal negatif yang akan merusak masa depan mereka. [Jay]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?