Humaniora

Tangis Uli dan Potret Kemiskinan di Kota Tasikmalaya

initasik.com, humaniora | Uli, warga Tugujaya, Cihideung, Kota Tasikmalaya, tak kuasa menahan air matanya saat menceritakan jalan terjal hidupnya. Pria berusia 83 tahun itu mengaku tak pernah punya tinggal tetap. Selalu berpindah-pindah. Dimana ada tanah kosong, di sana dia menumpang hidup.

Saat ini, bersama istrinya, Engkar, 76 tahun, Uli tinggal di tanah milik seorang warga yang letaknya dekat dengan Tempat Pemakaman Umum Gunung Jambu. Mereka membangun gubuk berukuran sekitar 3×2 meter. Itu sudah dijalaninya satu tahun lebih. Namun, mereka harus angkat kaki, karena tanah tersebut akan digunakan pemiliknya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Uli memulung sampah bekas kemasan minuman. Namun, itu tak jadi uang tiap hari. Harus dikumpulkan dulu. Dalam satu bulan, ia hanya bisa mengupahi istrinya tak lebih dari Rp 50 ribu. Itu hasil jual barang bekas.

Ia mengaku sudah punya anak. Lima orang anak. Namun, keadaan mereka juga sama. Belum ada yang mapan. “Anak-anak sudah berkeluarga. Tapi mereka masih ngontrak. Kontrakannya juga sempit. Jangankan buat kami tempati, untuk anak-anak mereka juga sempit,” tuturnya.

Uli memilih tinggal di gubuk, meski tidak ada aliran listrik. Saat malam tiba, ia memanfaatkan kaleng bekas susu kental dan dibuat sebagai penampung minyak. Jadilah lampu damar. Mereka berharap bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak dan tidak lagi disuruh berpindah-pindah.

Elon, warga sekitar, menyebutkan, Uli harus mengosongkan tempat tersebut, karena akan dipakai oleh pemiliknya. “Kemarin dengar kabar katanya mau diberi tempat di depan sana. Di atas tanah milik pemerintah. Tapi saya juga tidak tahu betul atau tidak,” imbuhnya. [Eri]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?