Inspirasi

Tanya Saja Cibodas ke Mana, di Situlah Surabi Ceu Mamah Berada

initasik.com, inspirasi | Dari Terminal Pancasila lurus ke arah timur. Nanti ada pintu rel kereta api. Jangan lewat sana, tapi masuk ke jalan yang ada gapuranya. Itu Bebedahan. Dari sana, terus lurus. Bila takut salah jalan, tanya saja ke warga; Cibodas ke mana?

Orang Tasik mah someah. Ramah ke tamu. Warga pasti akan senang hati menunjukkan Cibodas di mana. “Masih teubih, A. Teras we ka palih wetan. Engke aya pertiluan nu aya jembatan, tah eta Cibodas mah palih dinya,” jawab seorang ibu saat initasik.com bertanya arah Cibodas.

Ternyata lumayan jauh. Untung jalannya bagus. Kanan-kiri masih ada sawah. Udaranya segar. Cocok untuk olahraga lari atau bersepeda. Dari pertigaan jembatan itu, ternyata belok kiri. Nanti ada SDN 1 Purbaratu. Stop! Bila pakai mobil, parkir di depan SD itu. Jika bawa motor, langsung saja masuk gang, lalu belok kanan, nah di situlah surabi Ceu Mamah berada.

Kalau Allah SWT sudah menghendaki, kun fayakun. Begitupun surabi Ceu Mamah. Secara teori bisnis, usahanya mustahil maju. Tempatnya tersembunyi. Berada di pelosok kota, jauh dari keramaian, dan masuk gang. Adakah motivator bisnis yang berani menyarankan dagang di tempat seperti itu?

Untungnya Ceu Mamah tidak kenal dengan para motivator itu, sehingga pikirannya tidak dijejali dengan banyak perhitungan. Harus inilah, mesti itulah, begini dulu, begitu dulu, analisa SWATnya bagaimana, BEPnya kapan, dan setumpuk pertanyaan lain yang membingungkan. Alhasil, usaha belum jalan tapi sudah pusing duluan.

Ceu Mamah tidak termasuk golongan itu. Ketika mau usaha, go! Langsung beraksi. Tapi ada strategi Ceu Mamah yang boleh ditiru jika Anda akan buka usaha kuliner. Sebelum jualan, perempuan yang murah senyum itu membuat surabi dan dibagikan ke tetangga. Gratis. Ternyata, respons pasar bagus. Tetangga ketagihan, dan menyuruh Ceu Mamah jualan surabi.

Agustus 2003, istri Ajid Rosmanudin dan ibu dari Irfan Sani itu mulai dagang surabi di rumahnya, di Subanagara, Kel/Kec. Purbaratu, Kota Tasikmalaya. Orang-orang lebih familiar Cibodas, ketimbang Subanagara.

Awalnya ia hanya membuat 2 kg tepung. Setelah dua tahun berjalan, usahanya mulai ada kemajuan. Ikhtiar dan doa menjadi kunci utama Ceu Mamah dalam berjualan. Tanpa disuruh, tetangga Ceu Mamah yang jadi pelanggannya mengajak temannya untuk mencicipi surabi buatannya. Begitu seterusnya. Temannya mengajak teman-teman yang lainnya.

Promosi mulut ke mulut berjalan massif. Bahkan, budayawan Tasikmalaya, Ashmansyah Timutiah alias Acong, menjadi promotor Ceu Mamah juga. Komunitas wisata kuliner pun punya peran.

Namun, ternyata tak semua orang suka melihat kemajuan usaha Ceu Mamah. Ada saja yang iri. Parahnya, yang iri itu bertindak nekat. Adonan surabi dimasuki paku, dan kayu bakar yang kering disiram air. Sedih, iya. Tapi itu tak membuatnya patah arah, apalagi mencari tahu siapa pelakunya. “Keun, aya Alloh,” tandas Ceu Mamah ringan.

Kini, usahanya berkembang di luar dugaan. Dalam sehari bisa habis 13 kg tepung terigu, dan 8 kg telur. Pembelinya pun ada yang dari Singaparna, Manonjaya, bahkan Ciamis. “Abi ge heran, kunaon seueur nu gareulis tur garaya nu kadieu teh. Bencong oge sok aya nu kadieu. Duka ti mana kawitna. Nyebatna teh surabi ceu mamki cenah,” tuturnya sembari melempar tawa.

Selain tempat yang tersembunyi, waktu bukanya pun lain dari yang lain. Ceu Mamah mulai buka setelah Maghrib sampai tengah malam, malah hingga pukul tiga dini hari. Istirahat sebentar, lalu pukul enam pagi jualan lagi sampai habis. Selalu begitu setiap hari.

Waktos ngawitan icalan mah pangaos hijina teh mung Rp 300, nu diendogan Rp 1.000. Ayeuna mah hijina Rp 1.000, pami nganggo endog Rp 4.000,” jawabnya saat ditanya soal harga jual. [Jay]

Komentari

komentar