Peristiwa

Tasik Creative Festival Menuai Protes

Kota Tasik | Tasikmalaya Creative Festival kembali digelar. Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Tasikmalaya Wahyu Purnama, dan unsur lainnya membuka acara yang kali kedua digelar itu di halaman Setda lama, Kamis, 3 Desember 2015.

Namun, agenda tahunan garapan Bank Indonesia itu menuai kritikan. “Banyak yang protes seperti tukang bakso, martabak, dan pedagang lain. Tahun kemarin tidak begini, masih ada jalan untuk para pedagang. Sekarang kanan-kiri jalan habis oleh stan,” ujar Edi Gunardi, ketua Karang Taruna Komarasari, Kelurahan Empangsari, Kecamatan Tawang.

Menurutnya, setiap pameran yang diselenggarakan di daerahnya, karang taruna selalu dilibatkan. Tapi sekarang tidak. “Waktu ada acara pameran batu ali, panitia sampai menyumbang untuk masjid, karang taruna, dan ke masyarakat. Kalau dari BI sama sekali tidak ada,” sesalnya.

Kamaludin, pedagang sate, pun mengeluh, karena tempat jualannya terganggu. “Ripuh mun pas acara kieu teh. Biasana sok kenging Rp 600 rebu, ayeuna mah satengahna oge sesah. Ngarugikeun aya acara kieu teh,” tandasnya.

Bukan hanya pedagang dan warga setempat, pengisi acara pun ternyata menilai sumir acara Tasikmalaya Creative Festival tahun ini. “Panggungnya kecil, dan sound systemnya kurang lengkap,” sebut Yeari Noer Maulana, personel Green Marbles Band.

Pemain Karinding Sekarwangi pun merasakan hal yang sama. “Sound systemnya kurang greget. Kurang maksimal,” kata Reszi Muhammad Barkah, salah satu personel Karinding Sekarwangi.

Sekretaris DPD Sundawani Kabupaten Tasikmalaya, Alfie Akmad Sa’dan Hariri, menilai, tidak adanya panggung satu, dua, atau panggung tiga, selain panggung utama, membuat festival berjalan tidak maksimal.

“Kalau misalkan sekarang berubah seperti ini, karena tidak ada panggung satu dan dua yang sudah direncanakan, otomotis agak ribet juga untuk mengatur semua seniman yang sudah kita tetapkan jam tampilnya. Kami hanya menyediakan talent, tidak ikut campur dalam menentukan panggung atau yang lainnya,” terang Alfie.

Sementara itu, Wahyu Purnama, menepis kalau Tasikmalaya Creative Festival merugikan pedagang sekitar tempat acara dan warga setempat. “Justru mereka ikut bersama-sama di sini, tidak terganggu. Mereka berterima kasih karena ikut bersama-sama membaur di sini. Kita kan ada proses perizinan segala macam, masyarakat dengan senang hati memberi izin,” katanya.

Menurutnya, acara tahun ini diikuti 155 peserta dari berbagai instansi dan UMKM, sedangkan tahun kemarin 75 peserta. Selain di jalan Pemuda, juga ada stan di samping Masjid Agung Kota Tasikmalaya. initasik.com|syamil

Komentari

komentar