Peristiwa

Tasik Darurat Penghafal Al-Quran

Kota Tasik | Saat akan mendirikan PesantreneurshiPAY, Yadi Fiana kesulitan mencari guru yang hafal Al-Quran sebanyak 30 Juz. Kendati Tasikmalaya dikenal dengan sebutan kota santri, ternyata tidak mudah untuk menemukan seorang hafidz atau hafidzoh.

“Kami dapatnya malah di Solo,” ujar pria yang akrab disapa Bang Jack itu menceritakan pengalamannya saat akan mendirikan PesantreneurshiPAY pertama di Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya. Begitupun ketika akan merintis PesantreneurshiPAY kedua, di Condong, Setianegara, Cibeureum, Kota Tasikmalaya.

Diwawancara di sela acara seminar Daurah Al-Qur’an, di Gedung Serbaguna Bale Kota Tasikmalaya, Minggu, 10 Januari 2016, Bang Jack menjelaskan, PesantreneurshiPAY adalah pesantren khusus anak yatim yang mengelaborasikan ilmu agama dengan kewirausahaan. PAY sendiri merupakan singkatan dari Pecinta Anak Yatim.

Di pesantren itu anak-anak yatim dibina intensif agar bisa menghafal Al-Qur’an, sekaligus pandai berwirausaha di bidang perikanan, perkebunan, atau pertanian. “Dengan seminar Daurah Al-Qur’an ini kita ingin Tasik menjadi kota Qur’an. Kota ini harus berkah dengan banyaknya orang yang membaca dan hafal Qur’an,” harapnya.

Menurutnya, itu bukan hal yang mustahil dilakukan. Para santri di PesantreneurshiPAY sudah membuktikannya. “Menghafal Qur’an itu mudah. Yang sulit itu mindset kita. Kami menargetkan, one home one hafidz,” tandasnya.

Untuk meraih target itu, ia berencana di tiap kecamatan ada sepuluh pesantren yang intensif membimbing hafalan Qur’an. Itu penting dilakukan, karena berdasarkan pengamatannya tingkat baca Quran di kota ini terbilang rendah.

“Kita lebih senang membaca novel yang tebal, ketimbang baca Al-Qur’an. Silakan cek ada berapa orang di kota ini yang hafal 30 juz? Kita sudah berkunjung ke beberapa pesantren, kalau yang hafal 7 atau 10 juz ada. Kota santri baru sebatas jargon, karena di dalamnya kita sulit menemukan orang yang hafal 30 juz. Yang ada malah kemaksiatan yang dilakukan terang-terangan,” beber Bang Jack.

Di tempat yang sama, Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman, mengaku khawatir dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi. Hampir setiap orang sudah memegang telepon seluler canggih. Apapun ada di dalamnya, termasuk ayat-ayat Al-Qur’an.

“Tantangan pada hari ini adalah kita dihadapkan pada era teknologi yang luar biasa cepatnya. Tapi itu berbanding terbalik dengan peningkatan akhlak. Teknologi sudah ada di tangan. Segala sesuatunya ada di handphone. Mau baca Qur’an atau hadist tinggal buka handphone. Yang kita khawatirkan kondisi itu akan menjauhkan masyarakat dengan para kiai, karena menganggap semua sudah ada di handphone. Itu sangat berbahaya,” tandas Budi. initasik.com|shan

Komentari

komentar