Peristiwa

Tasik Festival Kehilangan Ruh

Kota Tasik | Ribuan penonton tumplek menyaksikan pembukaan Tasik Festival. Mereka saling dorong dan saling sikut. Akibatnya seorang perempuan pingsan dan langsung diangkut petugas PMI Cabang Tasikmalaya. Kemudian seorang wanita yang menggendong anaknya, sambil menuntun seorang lagi anak balita, terpaksa diamankan petugas dari himpitan penonton lainnya.

Serba-serbi berita Tasik Festival XIV yang dimuat dalam Pikiran Rakyat edisi Agustus 1988 itu, menggambarkan betapa acara tahunan tersebut selalu berhasil membetot animo masyarakat. Sampai-sampai gerombolan copet dari Bandung pun tak mau ketinggalan momen. Mereka turun gunung, mencari mangsa di Tasik Festival.

“Saya tahu mereka copet dari Bandung setelah ditangkap polisi,” ujar Syamsul Maarif, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Perwakilan Tasikmalaya, yang saat itu masih berstatus wartawan Pikiran Rakyat. Hingga kini, Syamsul masih ingat bagaimana meriahnya Tasik Festival zaman dulu. Itu diceritakannya kepada initasik.com, beberapa waktu lalu.

Ia mengaku sudah meliput Tasik Festival sejak 1983. Menurutnya, acara tahunan tersebut selalu disambut hangat masyarakat. Bukan hanya orang Tasikmalaya, tapi juga mereka yang tinggal di wilayah Priangan Timur.

“Meriah sekali. Kalau jalan-jalan ke Tasik Festival puas. Animo masyarakat juga sangat bagus. Para pedagang dari luar Tasik banyak sekali. Pendapatan pemda pun sampai ratusan juta rupiah,” kenang Syamsul seraya menyebutkan, Tasik Festival waktu itu diadakan mulai Jl. Pemuda, Hazet, sampai Nagarawangi.

Lantaran terbilang sukses, sambungnya, Tasik Festival sempat masuk dalam kalender wisata Jawa Barat. “Kalau Tasik Festival yang sekarang-sekarang jumlah pesertanya sedikit. Animo masyarakatnya juga kurang. Kalau dulu, panggung hiburan juga sampai ada enam panggung. Masing-masing menampilkan hiburan berbeda,” tuturnya.

Ia menegaskan, kendati Tasik Festival waktu itu digarap sepenuhnya oleh pemda, namun acaranya selalu berhasil. Masing-masing dinas antusias menampilkan hasil kerjanya. Dinas pertanian, misalnya, memerlihatkan singkong berukuran raksasa. Ada juga Angkatan Udara RI yang membuat replika pesawat besar.

“Sekarang pemerintah seperti tidak mau cape, sehingga segalanya diserahkan ke EO (event organizer). Tasik Festival yang sekarang kehilangan ruhnya. Beda dengan dulu yang benar-benar jadi tempatnya pesta rakyat,” tandasnya. initasik.com|ashani

Komentari

komentar