Inspirasi

Tasik Youth Project; Bergerak Selamatkan Anak Putus Sekolah

Kabupaten Tasik | Jika ada sekelompok orang yang bergerak senyap membumikan kepedulian, Tasik Youth Project (Typo) adalah salah satunya. Mereka lebih memilih bergerak tanpa gaduh dalam memupuk tunas-tunas harapan bangsa.

Berawal dari kegundahan setelah melihat banyaknya anak putus sekolah, para mahasiswa asal Tasikmalaya yang kuliah di berbagai kota sepakat untuk mengabdikan diri pada kemanusiaan. Pada pendidikan. Pada masa depan anak-anak yang terpaksa (disuruh) dewasa sebelum waktunya.

Tempat kuliah boleh beda, tapi punya tujuan sama. Mereka yang menimba ilmu di Universitas Teknologi Yogyakarta, Unsoed, Usu Medan, UNY, Unsil, LP3I, dan Poltekes Tasikmalaya, bergerak bersama membangun harapan anak-anak putus sekolah di pelosok. Seperti yang tengah dijalani di Kampung Pangkalan, Desa Citamba, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya. Tempatnya berbatasan dengan Cituak, Cikopeng, Kabupaten Garut.

Anak-anak di kampung itu banyak yang putus sekolah, karena berbagai alasan. Ada yang tidak menamatkan sekolah lantaran tidak punya biaya, baru lulus SD langsung bekerja karena disuruh orangtua, ada juga yang tidak sekolah karena gurunya galak. “Dulu pernah ada sekolah agama. Tapi tidak ada yang mengajarnya,” ujar Ade, 45 tahun, warga setempat.

Lantas Typo bergerak. Selangkah demi selangkah. Langkah awal, dekati para orangtua dan tokoh masyarakat. Setelah dapat izin, perlahan mereka mengajak anak-anak masuk ke dunia pendidikan. Tidak formal, tapi terarah. Anak-anak harus menjadi anak-anak. Bermain dan belajar. Belum saatnya disuruh mencari uang.

“Kami ingin memupuk anak-anak agar senang membaca. Buku itu asyik. Itu yang ingin kami tanamkan kepada anak-anak,” ujar Wulan Zulqaidah, 20 tahun, ketua Typo, di sela mengajar anak-anak Kampung Pangkalan, beberapa waktu lalu.

Bukan hanya mengajar, Typo juga menyumbangkan buku-buku lintas pelajaran. Namun, lantaran masih berstatus mahasiswa, mereka tidak bisa setiap hari ada untuk anak-anak. Hanya dua minggu sekali. Bagi-bagi tugas. Yang kuliah di Tasik berperan di depan.

Untuk itu, Wulan berharap pemerintah melalui dinas terkait menggerakkan OSIS untuk menjadi relawan-relawan pendidikan yang bertugas membimbing anak-anak putus sekolah di manapun berada.

“Kita tidak mau lepas begitu saja. Kita ingin ada anak-anak SMA yang nerusin atau siapa saja dan mereka mendapatkan reward dari dinas sebagai relawan pendidikan,” harap perempuan yang kuliah di Universitas Teknologi Yogyakarta itu. initasik.com|asm

 

Komentari

komentar