Foto-foto: Dok. Tasikmalaya Caving Community
Komunitas

Tasikmalaya Caving Community; Menyusuri Gua-gua Tersembunyi, Menafakuri Keindahan Pemandangan di Bawah Tanah


initasik.com, komunitas | Merayap, merangkak, dan memanjat dalam keadaan dengan sedikit pencahayaan menjadi bagian dari penelusuran gua (Caving). Petualangan di lorong gelap menjadi tantangan dan pengalaman yang memberikan kepuasan tersendiri.

Rasa ingin tahu dan cemas terbayar sudah ketika melihat keindahan-keindahan karst. Tidak sedikit nilai-nilai kehidupan yang didapat setelah melakukan aktivitas susur gua.

Rudiyana, sekjen Tasikmalaya Caving Community (TCC), mengatakan, dilihat dari bentangan alam yang ada, diperkirakan sangat banyak gua dan indah-indah yang tersebar di banyak tempat.

Dalam catatannya, sedikitnya ada 300 gua yang tersebar di daerah Tasikmalaya, namun yang sudah dikunjungi ada sekitar 100 gua. “Di Tasik itu terbilang susah untuk mencari gua, soalnya sudah tertutup sama pepohonan atau yang lainnya. Tapi kalau sudah ketemu, gua-gua di Tasik sangat indah-indah,” kata Rudi saat ditemui di tokonya, di Jl. Mayor SL Tobing, dekat Lampu Merah Padayungan, Kota Tasikmalaya.

Menurutnya, olahraga ini mulai ramai peminat di Tasikmalaya sekitar 2009. Kebanyakan kalangan muda mulai siswa dan mahasiswa. Pada perkembangannya, setiap mengadakan kegiatan peserta tidak kurang dari 20 orang.

“Acara suka di daerah Tasik Selatan, soalnya daerah tersebut banyak gua. Banyak manfaatnya, kita bisa mendekatkan diri pada Tuhan, soalnya di sana kita akan melihat ketakjuban. Melatih mental sudah jelas, olahraga ini sangat berisiko. Perhitungannya harus benar ketika akan menelusuri gua,” ungkap warga Babakan Muncang, Kelurahan Karsamenak, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya itu.

Ia menjelaskan, gua itu terbagi dua macam, yaitu gua vertikal dan gua horizontal. Sedangkan zona-zona dalam gua, zona terang, senja, gelap dengan suhu berubah-ubah, dan gelap dengan suhu tetap.

Untuk menelusurinya diperlukan berbagai pakaian dan peralatan khusus serta teknik yang baik agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya ketika akan menelusuri gua vertikal, harus mampu menguasai teknik Single Rope Technique (SRT). Itu berguna untuk bisa naik ke atas permukaan dengan menggunakan satu tali.

“Tergantung panjang gua, paling cepat satu jam. Ada yang sampai satu hari satu malam. Kami melalukan pemetaan untuk mengetahui luas, lebar, dan panjang gua serta kadar airnya. Pokoknya kalau sudah caving itu  suka ada kepuasan tersendiri. Merasa senang. Dari yang tadinya gelap, terus menemukan kembali cahaya, di situ sangat merasa gembira dan senang,” tandasnya, seraya meneyebutkan, anggota yang aktfi di TCC sekitar 20 orang. Mereka dikenalkan tentang bahaya penelusuruan gua, pentingnya gua dan kawasan karst, serta teknik-teknik penelusurangua dan lainnya. [Syaepul]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?