Dok. initasik.com
Sorot

Tempat Karaokean Jadi Lahan Basah Cari Uang Kaum Lesbian

initasik.com, sorot | Menjamurnya pusat perbelanjaan modern dan tempat hiburan di Kota Tasikmalaya membawa dampak buruk bagi keajegan sosial. Tempat karaoke, misalnya, sering dijadikan sarang mesum atau menenggak minuman keras. Di sana pula, kaum lesbian menancapkan eksistensinya.

Perempuan-perempuan dengan orientasi seks menyimpang kian mendapat tempat luas dengan munculnya tempat karaokean. Berdasarkan pengakuan beberapa narasumber, banyak pemandu lagu alias PL yang homoseks.

Duri (nama samaran), salah seorang pemandu lagu, berbagi informasi seputar dunia malam dan segala sisi gelapnya. Ia mengaku lesbian. Menurutnya, rata-rata umur teman lesbiannya sekitar 18 tahun. Yang paling kecil usia SMP. Malam hari mereka mencari uang di tempat karaokean, siangnya tidur.

“Kalaupun berhubungan badan dengan pria, itu hanya demi uang. Tidak dinikmati. Makanya kalau di ruang karaoke suka digrepe-grepe, ya biasa saja. Tidak ada reaksi apa-apa. Teu nafsu. Yang penting dapat uang,” tuturnya.

Menurutnya, ia bergaul dengan dunia malam sejak ada tempat karaokean. Ruang interaksi jadi lebih terbuka. Sekarang ditambah banyak tempat kumpul, seperti cafe. Rahasia-rahasia yang sebelumnya hanya berputar di dalam kamar pribadi, menyebar hingga ke tempat-tempat nongkrong.

Baca: Mendengarkan Cerita Kaum Gay dan Lesbian Tasikmalaya

Imel, pemandu lagu lainnya, mengutarakan informasi serupa. “Yang saya tahu, hampir semuanya yang jadi PL itu lesbi. Kalau saya tidak menyimpan foto-foto mesra dengan sesama perempuan. Tapi, teman saya di hapenya itu banyak foto mesranya,” sebutnya.

Wanita lesbian itu, lanjut dia, ada yang penampilannya seperti laki-laki, ada juga yang berambut panjang. Ada yang cuma suka sama perempuan, ada juga yang suka perempuan juga suka laki-laki. Ia mengaku menjalin hubungan dengan sesama jenis karena perhatiannya lebih.

Pengalaman Dewiq lain lagi. Meski sedang membangun rumah tangga dengan suaminya, di belakang ia main serong dengan sesama wanita. Hasrat berahi jadi alasan utamanya. “Suami saya sudah tua. Ketika berhubungan saya sudah tidak ada hasrat. Itu cuma untuk menutupi agar ngga ada yang curiga,” dalihnya.

Menurutnya, saat ini di Tasikmalaya sudah ada komunitas kaum lesbian. Komunikasinya jadi lebih mudah. Jauh berbeda dengan dulu. Sekarang lebih berani, dan ada yang terang-terangan bahwa mereka pecinta sesama jenis. [Syaepul]