Seni Budaya

Tempat Tampil Asal-asalan, Pemain Rampak Kendang Protes

initasik.com, seni budaya | Kalau tahu tempat mainnya seperti itu, Jajang Kasrana, penanggung jawab Rampak Kendang dari Padepokan Tapak Sepuh Ligar Saputra, Kampung Sindangrasa 01/11, Desa Manggungjaya, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, mengaku tidak akan datang ke tempat acara.

Tadi pagi, Senin, 28 Agustus 2017, ia dan kelompoknya diminta tampil dalam pembukaan Pekan Olahraga dan Seni antarPondok Pesantren Daerah Wilayah (Pospedawil) Jawa Barat, di GOR Sukapura Kota Tasikmalaya.

“Ternyata tempat mainnya seperti itu. Coba perhatikan. Istilah Sundanya ngan digolerkeun. Mikrofon juga tidak disediakan kalau kita tidak minta. Bukan apa-apa. Ini seni budaya warisan leluhur. Sudah selayaknya dihargai,” tuturnya.

Jajang mengaku sudah sering main di banyak tempat. Bukan hanya di dalam kota. Pernah tampil juga di Bandung, Kuningan dan daerah lainnya. Di hajat pernikahan pun sering. “Di sini termasuk yang parah tempatnya. Asal-asalan. Padahal ini seni budaya warisan. Masa kita disuruh main di bawah begitu saja. Main di tempat hajatan lebih dihargai. Lebih nyaman. Kita merasa lebih dihargai. Ini bukan soal materi, tapi penghargaan pada seni budaya warisan leluhur,” paparnya.

Ditanya soal keberadaan padepokannya, ia menyebutkan sudah didirikan sejak beberapa tahun lalu. Selain di Rajapolah, ada “cabang” di Ciawi dan Pagerageung. Total anak didiknya mencapai tiga ratus orang, mulai anak TK sampai kuliahan.

“Kita motivasinya ingin melestarikan seni budaya leluhur. Selain rampak kendang, kita juga ada pencak silat, jaipongan, tari topeng, dan wayang golek. Fokusnya di pencak silat. Pondasinya itu,” tandas alumnus Institut Seni Budaya Indonesia, Bandung, jurusan Karawitan, itu. [Jay]